GARUT|KABARNUSANTARA.ID – Politisi Sekaligus Pimpinan Daerah Partai Hanura, Jawa Barat, yang juga anggota DPD RI Aceng HM Fikri berkelakar mengaharamkan proses politik uang saat menggiring pemilih ke TPS, Aceng yang juga mantan Bupati Garut yang lengser akibat skandal nikah siri itu menyatakan selalu menjungjung tinggi politik kebarokahan.

“Disini saya tidak pernah mengajarkan kepada tim saya untuk berproses money Politik menjelang ke TPS, saya justru selalu mengajarkan politik barokah atai istilah di tim kami yaitu politik edukasi,”

kata Aceng di kediamanya di KP copong Kel Sukamentri Garut (10/04/19).

Bahkan Aceng berpendapat bahwa dirinya bukan terlahir dari tokoh politik, atau memiliki keturunan pejabat. Aceng mengaku dirinya hanya putra dari seorang ulama, yang selalu mengajarkan kebaikan kepada masyarakat.

“Awalnya saya bukan siapa – siapa di Garut, saya hanya seorang penjual kerupuk kulit dan tukang ayam, sementara orang tua saya ulama. 2009 maju menjadi Calon Bupati dan berhasil mengalahkan Calon Bupati yang banyak uang waktu itu. Tapi dari situ saya percaya bahwa ada gerakan rakyat yang muak dengan calon pemimpin yang selalu menyuap kepada rakyat saat pemilihan,” Tambah Aceng.

Setelah lengser dari Bupati karena nikah sirih, Aceng kemudian mencoba lagi peruntungan menjadi calon DPD RI pada 2014, aceng kembali lolos dan berhasil dilantik menjadi anggota DPD RI setelah meraup suara 1,3 juta suara se-Jawa Barat.

“Saat mencalonkan DPD RI, 1 rupiah pun saya tak pernah mengeluarkan uang untuk membeli suara di TPS, apa lagi waktu itu saya sedang jatuh, uang dari mana harus membeli suara per TPS. Jangankan dana pensiun Bupati, Tunjangan mantan Bupati pun saya tak menerima karena saya diberhentikan secara tidak hormat oleh Presiden SBY waktu itu. Saya justru bersyukur memiliki konstituen yang militan, mereka tak pernah dibayar, tapi mereka terus berjuang sekuat tenaga untuk mendukung saya menang di DPD RI,” tambah Aceng.

Ditanya dipencalonan DPR RI, yang maju di partai Hanura, Aceng menyatakan tak akan pernah merubah sikap dengan prinsip sebelumnya, dirinya bahkan mengharamkan proses money politik kepada tim nya, karena proses beli suara merupakan proses caleg yang tak percaya diri, ” pemilu sekarang saya harus beli suara?, saya nyatakan haram. 1 rupiah pun tak akan saya lakukan praktek busuk seperti itu. Jika ada caleg lain berprilaku seperti itu berarti dirinya tak percaya diri, sehingga menyuap rakyat,” tutup Aceng.
(Evan)