Aktivis Ciputat Ciptakan Peradaban Baru di Harlah 60 PMII

0
258

KABARNUSANTARA.ID – Panggung pergerakan merupakan medan utama PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dalam menancapkan api perjuangan.

Organisasi mahasiswa yang juga berdimensi kepemudaan ini sudah lama menjadi bagian dari sejarah NKRI.

Tepat tanggal 17 April 2020 PMII sudah menginjak usia ke 60, di usia seperti itu PMII praktis menjadi organisasi yang sudah sangat dewasa.

waktunya menjadi pelopor perubahan dan menjadi advokat untuk kaum mustad’ifin.

Sementara itu ada yang berbeda dalam perayaan harlah PMII saat ini karena dirayakan ditengah-tengah musim pagebluk covid 19.

Tapi hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi kader-kader yang ingin sekedar merefleksi dan mengingat lagi kontribusi para pendahulunya.

Penulis coba menyisir dari hilir koprs pergerakan yang cukup besar ini. Dimana pada setiap tahunya mampu merekrut puluhan ribu anggota baru disemua titik kampus yang ada di Indonesia.

Tentu hal tersebut menjadi salah satu modal utama bagi organisasi untuk melakukan perubahan besar.

Apalagi kalau kuantitas tersebut dikontrol dengan sistem yang baik, berjenjang dan terukur pasti akan memudahkan bonus demografi Indonesia menyambut indonesia emas tahun 2045 dengan mencetak intelektual-inteltektual handal.

Tapi justru disinilah masalahnya, harus diakui pergerakan ini belum bisa mewujudkan hal tersebut menjadi sesuatu kenyataan. Semua masih dalam frame yang sama yaitu retorika semata.

Pada akhirnya organisasi sebesar PMII ini masih belum bisa dikatakan sepenuhnya berkontribusi untuk Negeri.

Penulis teringat pada Mahbub Junaidi, ketua UMUM PB PMII pertama kali yang dijuluki sebagai pendekar pena terkait politik ala PMII.

Menurutnya, berpolitik adalah bermasyarakat, mengamati apa yang terjadi disekitar dan memiliki keberanian untuk membela suara yang benar.

Tidak harus menjadi anggota partai politik atau bagian dri plat merah Negara.

Tentu penulis sangat sepakat dengan apa yang dimaksudkan oleh Mahbub, bukan dengan pemahaman sempit dan pragmatis.

Sebab banyak sekali study kasus tentang kader-kader PMII berlomba-lomba berebut jabatan politik dan mengabaikan subsanti pergerakanya.

Bahkan, tak jarang mereka saling sikut untuk dapat menduduki kursi yang diinginkanya.

Hal ini pasti akan menjdi penyakit yang lama kelamaan akan mengrogoti tubuh pergerakan ini dikemudian hari.

Entah diusia yang keberapa, semoga saja tidak akan terjadi.

Saat ini dan kedepanya PMII harus mampu memproteksi dirinya dan memgambil peran secara kolektif dalam masalah ekonomi, budaya, agama, politik, pendidikan, tekonologi dan lain sebagainya.

Bukan sebagai penikmat tapi sebagai aktor utama, mengingat hari ini banyak tangangan besar yang harus kita hadapi seperti membantu mempersiapkan Indonesia emas di tahun 2045 dan sebagai anak kandung yang keluar dari rahim NU harus mampu membentengi NU dari gempuran gempuran islam radikal, apalagi hari ini NU sudah menjadi shahibul qarar (Penentu kebijakan) Di Negara Indonesia.

Tentu bukan dengan peluru dan bau mesiu tapi dengan pemikiran.

Kemudian siapkan kritikus-kritikus muda sebanyak mungkin untuk mengisi dunia pendidikan Indonesia.

Terutama mempersiapakan ilmu teknologi untuk membekali kader dimasa mendatang.

Penulis sangat optimis diusia ke 60 ini PMII akan semakin jaya dan mewarnai Negri

Selamat harlah pergerakanku, salam pergerakan!

Oleh : Ahmad Safarudin, Aktivis PMII Ciputat