GARUT|KABAR NUSANTARA – Kabar Budaya, Dalam perayaan penyambutan Kirab Obor Asian Games di Garut, Jawa Barat, semakin meriah dengan adanya atraksi sebatang bambu sepanjang lima meter. Bambu itu dipegangi dengan erat oleh tujuh orang dan diiringi alunan musik sunda seperti goong, terompet, angklung, dan bedug, mengiringi ritualnya.

Saat ritual, tiba-tiba para pemegang bambu terlihat terpontang-panting kesana kemari seperti tidak dapat mengendalikan badannya. Para penonton yang menyaksikan atraksi tersebut juga mulai mundur agak menjauh.

Satuan Polisi Pamong Praja Garut, saat mencoba Awi Gelo di depan panggung pagealaran Asian Games 2018 Jakarta-Palembang

Satu orang perempuan dengan kostum hitam-hitam dan selendang merah berjaga-jaga. Ia bertugas untuk mengendalikan bambu yang ternyata sudah dimasuki oleh makhluk astral agar tidak mengarah ke penonton. Setiap kali bambu akan menubruk ke arah penonton, perempuan itu menggunakan selendangnya dan mengarahkan bambu tersebut.

Atraksi tersebut dinamakan Awi Gelo (Bambu Gila). Disebut Awi Gelo, karena konon, roh makhluk halus dimasukkan ke batang bambu itu oleh malimnya. Sehingga gerakannya liar tak terarah. Bak orang gila mengamuk. Para pemegang bambu yang tak kuasa menahan gerakan liar bambu itu pun ada yang terbanting lepas dari pegangannya.

Seni dan Budaya Awi Gelo ini dimainkan oleh masyarakat Banyuresmi dibawah binaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Garut. Bahakan saat atraksi terlihat seorang bule ikut bergabung dan mencoba seberapa gilanya bambu tersebut.

“Wah bambunya terlihat ringan tapi ternyata membuat puntang panting, para pemegang bambu itu, padahal pembawa acara sudah meminta orang-orang yang kekar bahkan satpol PP Garut mencobabya,”Ujar Teti Sumiati salah satu warga yang menyaksikan pertunjukan tersebut, Minggu (12/08/18) Sore.

Seni dan Budaya Awi Gila ini memang unik. Selain menampilkan sisi kesenian dan budaya ada unsur magis yang sangat lekat pada atraksi yang satu ini.

Atraksi Awi Gelo ini tidak bisa dipegang oleh satu atau dua orang. Pasalnya, kekuatan magis yang kuat di dalam batang bambu tersebut tidak akan tertahan. Setidaknya butuh tujuh orang atau bahkan lebih yang bisa memainkan atraksi ini. Itu juga tergantung oleh panjang bambunya. Jika lebih dari empat meter, maka diperlukan lebih banyak org lagi untuk memegang bambu tersebut.

Untuk menyudahi atraksi ini, malim harus memegang batang bambu yang kemudian didoakan lagi. Sehingga unsur magis yang ada menjadi ternetralisir. Sebagai tanda berakhirnya pertunjukan ini.

(ESR/red)