TASIKMALAYA, KABARNUSANTARA.ID – Seorang warga di Tasikmalaya menggugat tetangganya sendiri. Ia merasa kesal karena burung murai peliharannya mati karna tetangganya.

Gugatan sudah terdaftar di Pengadilan Negeri Tasikmalaya. Septhiana Virginandi terdaftar sebagai penggugat, sementara Yamin sebagai tergugat.

Dalam perkara ini, Sethiana sebagai penggiat burung kontes ini menuduh Yamin turut andil sebabkan burung murai miliknya mati beberapa bulan lalu. Asap dari pembakaran sampah yang dilakukan yamin sebabkan burungnya jatuh sakit hingga mati.

“Saya bisnis di bidang usaha burung. Nah yang mati sebenarnya ada tiga. Tapi yang dua saya kurang bukti. Yang satu ini burung langganan juara kontes nasional dia menang di piala presiden, Galamedia dan banyak lagi. Itu mati jadi kasusnya dia bakar sampah di bawah, naha burung saya digantung di atasnya ada lima meter kena asap.

Awalnya serak terus imunya turun itu buring sakit sakitan, Sampai mati beberapa bulan setelahnya,” Kata Septhiana Virginandi, ditemui di Pengadilan Negeri Tasikmalaya, Jawa Barat Selasa (02/02/21) yang dilansir dari detik.com.

Septhiana menggugat tetangganya ini senilai Rp 60 juta atau seharga burung yang mati. Ia awalnya menggugat tahun 2020 lalu namun dicabut. Dia layangkan lagi gugatan karena kecewa dengan sikap Tetangganya Yamin.

Puncaknya, ia masih serimg membakar sampah yang mengganggu pernafasanya karena memiliki asma. Terlebih lagi, Yamin justru membakar sampah saat anak keduanya baru lahiran prematur.

“Saya gak langsung gugat yah. Nah puncaknya dia itu masih ajah bakar sampah dan Asapnya ganggu pernafasan keluarga kami. Apalagi, anak kedua saya yang lahir prematur baru dibawa udah ada asap yah kecium baunya. Maka saya bulat layangkan gugatan.”Tambah Septhian.

Sementara itu,Yamin merasa tidak pernah membunuh burung murai batu milik tetangganya hanya gara-gara membakar sampah. Selain jaraknya jauh, asap yang ditimbulkan dari pembakaran ranting pepohonan hanya sedikit.Yamin bertugas sebagai seksi kebersihan di lingkungan perumahan yang bertugas membersihkan lingkungan.

“Saya gak pernah merasa membunuh burungnya pak Nandi. Saya bakar sampah itu hanya ranting aja. Asapnya gak banyak. Lagian burungnya mati enggak tau juga kapan kapanya. Jarak dari lokasi pembakaran ke tempat jemur burung juga jauh 20 meter lebih. Saya kan seksi kebersihan tugasnya jelas bersih bersih pak,”Ucap Yamin ditemui di rumahnya.

Meski sempat dibawa melalui jalur musyawarah di tingkat warga, Septhiana tetap meminta ganti rugi Rp 60 Juta untuk burungnya yang mati. Bahkan, tetangganya sempat meminta ganti rugi Rp 500 ribu per hari hingga jika ditotal 60 juta rupiah

“Saya tau digugat dari surat pengadilan. Sempat ditempuh jalur komunikasi melalui Pak RT tapi dia minta ganti rugi ajah. Malahan mintanya sehari 500 ribu total 60 juta. Saya hanya bisa pasrah pak. Gak faham juga hukum. Tapi saya ingin hidup bertetangga dengan aman nyaman pak gak kaya gini,” kata Yamin.

Permasalahan ini muncul sejak 2019 silam. Yamin dikenal sebagai seksi kebersihan yang tugasnya bersih bersih. Ia kerap membakar sampah di lingkungan perumahan dan warga terbantu.
Beberapa bulan kemudian burung murai batu milik tetangganya mati. Padahal kedua rumah penggugat dan tergugat berdempetan hanya di pisahkan tembok.

Pihak Rukun Tetangga setempat sudah berupaya melakukan mediasi permasalahan ini. Namun, Upayanya gagal karena pihak penggugat tetap menuntut ganti rugi atas kematian burungnya dengan nilai puluhan juta rupiah.

“Saya prihatin kita itu bertetangga malah seperti ini. Kami pengurus sudah coba komunikasi kedua belah pihak coba diislahkan tapi menemui jalan buntu. Kami berharap minta saling berdamai hingga kami bisa jalankan program kami kalau tetangga gak rukun bukan rt.” kata David, humas RT di Perum Nanggela.

Selain prihatin, pihak rt meminta agar dua orang yang bertetangga ini menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Apalagi, anak keduanya masih sering main bersama saat orang tuanya berselisih.