Corona, Do’a dari Indonesia

0
249

Pagi ini tak seperti biasa,
Aku berjalan menuju kota,
Sepi di jalan raya,
Kanan-kiri tutup seketika,
Entah apa yang menerpa.

Lalu gawai pun ku buka,
Portal berita ramai tiba-tiba,
Judulnya beraneka,
Dari pejabat yang jenaka,
Menantang, mencerca,
Bahkan membusungkan dada.

Sambil berkata,
“Indonesia tak akan kena corona,
Karena panas, warganya suka makan
Nasi kucing” tegasnya.
Sampai ada menantang profesor Harvard,
bahwa corona tak berani menyapa.

Aku tak mengiraukan guraunya,
Terus berjalan hingga ke kota,
Meski pikiran tak karuan seketika,
Perjalanan terus terjaga.

Sesampainya di kota,
Semua orang menutup mulutnya,
Dengan bahan langka,
Berbahan kasa.

Harganya menggila,
Sampai seharga mutiara,
Calo dan cukong bersorak ria,
Dapat untung berlipat ganda.

Dolar naik semerta-merta,
Rupiah turun tiba-tiba,
Menembus angka tak biasa,
Ancaman krisis semakin nyata.

Pejabat saling cela,
Saling cerca, saling fitnah, saling sela,
Tak ada kerjasama, berbondong muncul di media, Bah pahlawan dan penuh citra.

Ku tak nyaman melihat kota,
Lalu bergegas pulang ke asrama,
Sesampainya
Teman meminta mencuci tangan,
Meminta buka sepatu, baju, celana,
Dan semuanya.
Ini tak seperti biasa.

Lalu televisi tak sengaja menyala,
Lagi-lagi berita beraneka,
Wuhan, Italia, Iran, Korea,
Jepang, Australia, Indonesia
bahkan Amerika,
Negara-negara lain juga.

Mereka sepi tak biasa,
Ada apa dengan semua?
Masjid, kelenteng, Gereja, pura, wihara,
Sepi tak biasa.
Manusia dituntut mencari Tuhan-Nya,
Dipaksa menyembah tak biasa.

Ku bergegas tidur di sofa,
Matikan televisi tanpa tanya,
Seraya memanjat do’a,
Ya..Tuhan ada apa dengan semua,
Semoga baik seperti sediakala.

Tengah malam tiba-tiba,
Mata terbuka,
Meneteskan air mata,
Ingat Ibu, Bapak, kaka,
Guru, sahabat dan saudara,
Semoga mereka sehat sediakala.

Ku coba memejamkan mata,
Kelopak dan alis tak mau ikut serta,
Lalu ku ambil pena,
Ku tulis sajak untuk orang tercinta.

“Ya Tuhan, mungkin kau marah dengannya, Bumi yang indah dirusaknya, sombong dan angkuh seakan kuat segalanya,


Hewan-hewan dimakan seenaknya,
Tak mengenal larangan-Nya,
Perang dagang tak sehat,
Rakus, tamak, serakah padahal dilarang-Nya.”

“Ya Tuhan, ribuan nyawa telah tiada,
ribuan lainnya tak berdaya,
Banyak orang tercinta pergi kepada-Nya, dari penjuru dunia, tak mengenal jabatan, ras, suku, agama, serta budaya. Tak tau siapa berikutnya.”

“Ya Tuhan, maaf ku sampaikan kepada-Nya, Semerbak bulan suci sebentar lagi menyapa, Izinkan kami bersimpuh, mohon kiranya bumi kami seperti sediakala, jagalah bangsa kami, hanya kepada-Mulah kami meminta.” (*)

Penulis : Ramadhan

Editor : Ade Indra