JAKARTA|KABARNUSANTARA.ID – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin Kampus UIN Jakarta adakan Seminar dan Sosialisasi Melawan Radikalisme pada hari Selasa (18/09/18) di Aula Madya Lantai Dasar.

Acara tersebut sengaja di gelar untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa agar tidak terpengaruh terhadap pemahaman – pemahaman radikal yang akan meruntuhkan kedaulatan bangsa Indonesia. Brigjend Polisi (Purn) Dr. Parasian Simanungkali, SH, MH. Saat menjadi Keynote Speaker pada acara tersebut mengatakan,  bahaya paham radikalisme di Indonesia, tidak boleh ada haltersebut karena Indonesia dalah negara yang sangat berdaulat dengan didasari oleh pancasila.

“Indonesia memiliki dua fase yaitu saat masa penjajahan dulu dan ada fase non perang yaitu masa yang sekarang kita hadapi, maka yang harus kita sikapi pada fase sekarang ini adalah dengan meningkatkan prestasi belajar dan memahami betul pentingnya menjaga ketahanan republik Indonesia, agar tidak menyimpang dari berbagai pemahaman yang salah,” ujarnya.

Setelah itu penyampaian materi seminar yang dimoderatori oleh M Hidayatullah, Lc. S.Ag dengan diawali prolog “ Indonesia adalah negara yang kaya dan terdiri dari 1580 pulau didalamnya berjumlah 260 Juta jiwa yang ada di Indonesia, dengan itu mahasiswa harus sadar dan bangkit mempertahankan ketahanan republik Indonesia,”ucapnya.

Bahkan dalam acara tersebut diisi pemateri olwh M Raihan, sebagai mantan penggiat ISIS pernah tergabung dalam Organ ISIS, dan menceritakan pengalamannya ketika awal masuk ISIS. “Faktor pemahaman agama yang kurang, faktor ekonomi yang kurang, dan faktor pergaulan atau lingkungan sekitar, hal- hal itulah yang menyebabkan saya tergabungnya di dalam organisai ISIS,”paparnya.

Acara semakin ramai saat Dr. Arrazy Hasyim., MA yang merupakan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Darus- Sunnah, menjelaskan pemahaman yang berkembang mengenai ISIS dan paham lainnya, bahkan dia menyampaikan bahwa pada zaman sahabat sudah banyak menggunakan istilah pemerintahan yang sekarang dijalankan di Indonesia, seperti demokrasi, wasiat, kerajaan, perang, dan diplomasi.

“Maka sangatlah salah apabila mengira Indonesia sebagai negara kafir, karena sejatinya Indonesia-pun banyak menerapkan sistem pemerintahan yang pernah dilakukan pada zaman sahabat, selain itu beliau juga menekankan bahwa tingkat tertinggi radikalisme adalah ketika sudah sampai kepada I’tiqadi setelah perkataan, perbuatan dan ia ber-‘itiqad bahwa Islam dialah yang paling benar. Sehingga melakukan tindak frontal ketika melihat yang tidak sejalan dengan islamnya, maka hal tersebut sampailah pada tindakan radikal yang merugikan banyak orang,”pungkasnya.

( Hudori PR )