JAKARTA|KABARNUSANTARA.ID – Irjen Kemendikbud Muchlis R Luddin, menyatakan, Ujan Nasional (UN) tahun 2019 masih diwarnai kecurangan. Dan kecurangan terbanyak terjadi pada tiga mata pelajaran yakni Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

“Sekolah yang melakukan kecurangan akan dikenakan sanksi, untuk pengawas sanksinya akan dibebastugaskan, sementara untuk siswa sanksinya mendapat nilai nol,” kata Muchlis dalam jumpa pers Selasa (28/5/2019) di Jakarta.

Baca juga:

Empat Menteri Pantau Persiapan Jalur Mudik di Nagreg dan Limbangan

Ditambahkannya, pengaduan Ujian Nasional (UN) 2019 lebih tinggi dibanding jumlah pengaduan pada UN 2018 lalu. Pada tahun 2018 lalu, jumlah pengaduan hanya 57 pengaduan sementara pada tahun 2019 menjadi 86 pengaduan.

Laporan tersebut berasal dari 39 kota. Di antaranya dari Jawa Timur terdapat 39 sekolah yang diadukan, Jawa Barat 11 sekolah, Jakarta tiga sekolah, dan daerah lainnya.

“Dalam aduan itu tampak bahwa kecurangan terbanyak terjadi pada mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,” ujarnya.

Baca juga:

Menko PMK Puan Maharani Sebut Jalur Selatan Jawa Siap Hadapi Arus Mudik

Dalam kesempatan itu, Muclis membeberkan juga tentang sekolah yang melakukan kecurangan secara masif pada UN tingkat SMP tahun 2019. Sekolah itu adalah Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al Abror Sidoarjo, Jawa Timur.

Di MTs ini kecurangan dilakukan secara terstruktur dan masif. Guru ikut mengerjakan soal UN untuk “membantu” siswanya. Caranya dengan membuat koneksi ke ruang siswa. Sementara siswa pura-pura mengerjakan, padahal yang mengerjakan gurunya.

Reporter : RM
Editor : Mustika