Gula Aren Kampung Dukuh Penjaga Stamina Calon Haji

0
151

GARUT|KABARNUSANTARA.ID – Kampung Dukuh di puncak Gunung Silayung, Desa Karyamukti, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, tak hanya memiliki destinasi wisata Silayung Park yang kini mulai menasional, tapi juga menyimpan potensi gula aren yang menjanjikan.

Setiap hari gula aren produksi Dukuh turun gunung dibawa bandar ke sejumlah pasar di wilayah Garut, terutama Pasar Bandrek dan Pasar Cibatu yang lokasinya paling dekat.

Namun yang unik, ternyata gula aren Kampung Dukuh, disukai para calon haji untuk bekal selama berada di tanah suci. Tak heran jika pada musim keberangkatan haji, gula aren Dukuh banyak pesanan. Sementara di luar musim haji, gula aren banyak dipesan oleh orang yang akan berangkat umroh.

Baca juga:

Percepat Roda Perekonomian Masyarakat Mekarmukti Bangun Akses Jalan Baru

“Setiap hari ada saja orang yang mau berangkat umroh datang ke Dukuh untuk membeli gula. Katanya untuk dibawa ke tanah suci sebagai bekal,” kata Bi Emoy (54) salah seorang pengrajin gula aren warga Kampung Dukuh yang ditemui di rumahnya di Kampung Dukuh, Jumat (21/6/2019).

Emoy menunjuk tumpukan gula aren yang diwadahi dus.

“Itu juga pesanan orang yang mau berangkat umroh, katanya besok mau diambil,” ujarnya.

Potensi Kampung Dukuh. Selain gula aren, juga tembakau. (Foto Atu RF)

Kampung dukuh terletak sekitar 2 km ke arah Timur dari kantor Desa Karyamukti. Jalannya berliku dan menanjak sebagaimana jalan ke kawasan puncak gunung lainnya. Kendati demikian, kampung itu sekarang ini bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat. Kondisi ini tentu memperlancar distribusi hasil bumi kampung tersebut, sebab selain dikenal sebagai penghasil gula, Kampung Dukuh pun dikenal sebagai penghasil jahe, tembakau dan kopi.

Tak diketahui pasti mengapa gula aren Kampung Dukuh disukai para calon haji. Namun Kepala Desa Karyamuki, Widya Heru, SE, menduga, hal itu disebabkan oleh kandungan nutrisi gula aren Dukuh yang tinggi dan menyehatkan.

Menurut Heru, panggilan akrab Kepala Desa Karyamukti, pembuatan gula aren di Kampung Dukuh dilakukan secara tradisional dan tanpa campuran bahan apa pun, apalagi pengawet.

Dikatakannya, gula aren Kampung Dukuh diolah dari sadapan kawung murni, dimasak menggunakan kayu bakar dan dicetak di cetakan bambu.

“Baunya wangi dan rasanya sangat lezat. Itulah kelebihan gula aren Dukuh sehingga disukai mereka yang mau berangkat ke tanah suci. Mungkin untuk menjaga stamina selama di perjalanan dan selama pelaksanaan ibadah haji. Bisa dimakan langsung atau sebagai campuran minuman,” katanya.

Ada tujuh keluarga yang pembuat gula aren di Kampung Dukuh, yaitu Bi Emoy dan enam tetangganya. Mereka setiap hari berangkat ke hutan untuk menyadap air nira, dan setiap hari memproduksi gula aren.

Baca juga:

Objek Wisata Cipanas Garut Masih Jadi Favorit

Tak ada data pasti berapa produksi gula aren dari kampung ini. Namun Emoy mengaku setiap hari mampu memproduksi gula aren sekitar 50 biji, terkadang lebih.

“Hasilnya tak menentu tergatung banyaknya air nira yang berhasil disadap. Kadang 50 kadang lebih. Tapi pernah mencapai 100 biji,” ujar wanita sederhana yang sudah puluhan tahun menjadi pengrajin gula aren.

Ditambahkannya, ukuran gula aren di Kampung Dukuh bukan kiloan, tapi bijian atau bonjoran. Satu bonjor berisi 10 biji gula.

“Harganya rata-rata 50 ribu rupiah untuk satu bonjor,” jelas Emoy.

Gula aren produksi Emoy cetakannya memang cukup besar, berdiameter sekitar 10 hingga 12 cm dan panjang sekitar 20 cm. Ditambah dengan keaslian dan kemurnian yang terjamin, rasanya harga Rp 50 ribu per bonjor memang sangat wajar.

Reporter : Atu RF
Editor : Mustika