KABARNUSANTARA.ID – Jembatan Long Penjalin, akses utama menuju pusat kecamatan Tabang, di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, ambruk. Sudah tiga bulan ini, tidak ada perbaikan. Kondisi itu berdampak pada arus distribusi angkutan sembako. Alhasil, harga kebutuhan pokok pun melonjak.

Kepala Desa Sidomulyo Kecamatan Tabang Saidina Aswat menerangkan, sampai saat ini belum ada perbaikan jembatan yang dilakukan pemerintah.

“Kami harap pemerintah bisa segera memperbaiki. Memang ada jalan alternatif dibuat swasta. Mesti ada biaya yang dikeluarkan, untuk lewat jalan alternatif itu,” kata Aswat, dikonfirmasi merdeka.com, Senin (16/11) yang dilansir dari medeka.com.

Aswat merinci, tarif melewati jalan alternatif itu untuk motor Rp10.000, mobil biasa Rp50.000, serta mobil angkutan Rp100.000. “Termasuk mobil angkutan sembako, pulang pergi jadi bayar Rp200.000,” ujar Aswat.

Kondisi ini dikeluhkan masyarakat. Tingginya biaya yang dikeluarkan angkutan sembako untuk memasok kebutuhan pokok di sejumlah desa di Tabang ikut memengaruhi harga sembako. “Harga kebutuhan di Tabang jadi ikut naik,” tambah Aswat.

“Misalnya saja, elpiji 3 kg dari normal Rp42.000, sekarang Rp55.000. Gula pasir dari harga Rp12.000 jadi Rp15.000 per kilogram,” sebut Aswat.

Bahkan, ongkos mobil travel juga ikut naik. “Transportasi travel. Sebelumnya Rp 150 ribu per orang dari Tabang ke Tenggarong (pusat pemerintahan kabupaten Kutai Kartanegara), sekarang jadi Rp250.000,” ungkap Aswat.

Tidak hanya itu. Meski harga BBM di SPBU tetap, namun saat SPBU kehabisan stok, harga premium eceran juga ikut naik. “Belinya di SPBU kan harga normal di SPBU. Tapi kalau SPBU kering, belinya ke pengecer. Nah, di pengecer ini dari harga Rp9.000, jadi Rp11.000. Jadi, semua terdampak,” ucap Aswat.