Ini Yang Jadi Mimpi Bos Jouska, Dengan Harga Kaki Lima Tapi Layanan Bintang Lima

0
114

JAKARTA, KABARNUSANTARA.ID – Jouska Indonesia berambisi besar untuk menyediakan layanan kelas menengah yang disebut sering menjadi korban kasus investasi bodong, hal itu diungkapkan CEO Jouska Indonesia Aakar Abyasa Fidzuno dalam sebuah wawancara pada April 2019.

Menuturkan Jouska mulai beroperasi efektif pada 27 Oktober 2015, ia mengaku sebelumnya tidak memiliki jaringan di Jakarta, dalam mengatasi  jejaring, Pria kelahiran Banyuwangi itu memilki asisten yang bertugas menghubungi beberapa financial planner.

Gelombang awal, Jouska memiliki lima penulis buku dan sudah terkemuka sebagai perencana keuangan. Bahkan dalam 6 bulan pertama, Jouska harus menentukan produk dan layanan.

Aakar menyebut financial planner existing yang pernah dijalaninya memiliki jarak yang jauh dengan pasar.

“Kebanyakan financial planner yang praktek itu belum punya lisensi WMI [Wakil Manajer Investasi] dan WPPE [Wakil Perantara Pedagang Efek]. Padahal di industri ini lisensi itu menjadi hal yang mendasar,” paparnya saat ditanya kisah awal Jouska beroperasi.

Sedangkan dalam rentang 2015—2017, Aakar menyebut perseroan memanfaatkan periode itu untuk melakukan riset dan membangun sesuatu, Pada 2 tahun pertama sekitar 800 orang, tetapi didominasi oleh market A.

Namun setelah menggunakan sosial media, Aakar mengaku banyak bermunculan klien dari kalangan menengah. Perseroan sudah menangkap atau captured sekitar 2.800 klien pada 2018.

Pada April 2019, Bos Jouska itu memang telah memiliki rencana meningkatkan skala perseroan dalam 1—2 tahun ke depan, khususnya, penasihat keuangan digital itu ingin hadir bagi kelas menengah.

“Kami juga lihat yang banyak kena kasus investasi bodong itu kan justru kalangan menengah sehingga Jouska ingin hadir sekali untuk kelas menengah ini. Jadi, ibaratnya kami sediakan layanan dengan harga kaki lima tetapi servis bintang lima,” paparnya menjawab pertanyaan soal rencana menyasar kalangan menengah.

Aakar menyebut misi Jouska dari awal ialah menggantikan semua profesi pemasar produk keuangan, menurutnya, di negara maju profesi financial advisor bisa menggantikan relationship manager bank, broker saham, dan agen asuransi.

Jouska ini menjadi sorotan setelah bermunculan keluhan terkait layanan yang diberikan perseroan pada selasa (21/7/2020), salah satunya Yakobus Alvin, klien Jouska periode 2018-2019.

Melalui cuitannya di sosial media, Yakobus menceritakan bahwa ia mau mengikuti paket layanan yang disediakan oleh Jouska, dia menyerahkan dana senilai Rp. 65 juta untuk dikelola.

Tetapi dari segi Portofolio yang dimilikinya telah mengalami penganjlokan. Yakobus mengklaim kehilangan Rp. 35 juta dari dana yang diberikan kepada Jouska.

Reporter : Mimbar