Kisah Nabi Ibrahim dan Raja Namrud Yang Ngaku Tuhan

0
702

ISLAMI, KABARNUSANTARA.ID – Kisah Nabi Ibrahim AS yang menjadi nabi ke-6 dalam sejarah rasul Allah yang wajib diketahui umat Islam, secara silsilah, Nabi Ibrahim adalah Ibrahim bin Azzar bin Tahur bin Sarush bin Ra’uf bin Falish bin Tabir bin Shaleh bin Arfakhsad bin Syam bin Nuh.

Sebagai seorang yang mulia, tugas Nabi Ibrahim AS sangatlah berat, pasalnya beliau harus dilahirkan di tengah-tengah masyakrakat jahiliyah yang musyrik dan kafir, Nabi Ibrahim dilahirkan pada tahun 2295 SM di Negeri Mausul.

Namun ayah dari Nabi Ibrahim AS adalah pembuat patung berhala yang juaga mempercayai bahwa patung-patung itu adalah perantara manusia kepada Sang Khalik, bahkan kaum jahiliyah di zaman Nabi Ibrahim memiliki seorang penguasa bernama Raja Namrud yang dengan sombongnya mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan Semesta Alam.  Yang menjadi aneh pada masa itu, banyak sekali yang percaya pada pengakuan tersebut.

Dimasa kecil, Nabi Ibrahim diasingkan ke hutan, di dalam sebuah goa yang mustahil akan ditemukan orang, hal ini dilakukan dalam bentuk penyelamatan karena di zaman itu Raja Namrud mengeluarkan peraturan untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir.

Namrud mengeluarkan kebijakan itu karena dirinya tidak ingin digantikan oleh siapapun di muka bumi ini sebagai penguasa, oleh karena itu, orang tua Nabi Ibrahim mengasingkannya ke sebuah hutan. Allah telah menunjukkan kuasanya dengan membuat Nabi Ibrahim tumbuh sebagai sosok lelaki yang tangguh hingga selamat dari segala macam marabahaya di hutan.

Hingga akhirnya dirinya kembali ke tengah masyarakat dan melihat semua orang seperti gila pada patung, hampir setiap rumah dan tempat-tempat umum dipenuhi patung berhala agar dapat menyembah setiap waktu. Termasuk di rumah ayahnya yang memang bekerja sebagai pembuat patung berhala.

Semakin lama Nabi Ibrahim mulai bertanya kepada diri sendiri tenyang adanya tuhan. Manakah yang dinamakan Tuhan? Kemudian Allah pun memberikan mukjizat pada Nabi Ibrahim yakni sebuah pemikiran cerdas, kritis, sekaligus mengutusnya sebagai penyampai keberadaan Allah SWT selama ini. Serta mengajak semua orang untuk senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan meninggalkan berhala-berhala yang tidak penting.

Berulang-kali dengan pemikiran cerdasnya, Nabi Ibrahim as bertanya siapa sebenarnya Tuahan? Benarkah berhal itu adalah Tuhan? atau justru Raja namrud yang berkuasa itu adalah Tuhan? Kemudian dia melihat bulan dan bintang di malam hari, matahari di siang hari, ia berkata “Mungkinkah benda-benda itu Tuhan?”

Namun ternyata, bulan dan bintang menghilang dan matahari terbenam, lalu ia berkata, “Aku tak akan bertuhan kepada benda-benda seperti itu.”

Allah SWT pun berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 76-79:

Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam”. Â

Tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat”.

Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar”. Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Â

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Mulai saat itu beliau meyakini bahwa bukan berhala-berhala itu Tuhan semesta alam. Allah kemudian membisikkan sebuah perintah kepada Nabi Ibrahim untuk mengajak orang menyembah pada Allah SWT, bukan lagi berhala.

Jagat raya dan seluruh isinya serta hukum yang berlaku di dalamnya, cukup kuat untuk menjadi bukti keesaan Allah dan kebatilan perbuatan orang-orang musyrikin.

Nabi Ibrahim AS cenderung kepada agama tauhid dan menyatakan bahwa agama-agama lainnya adalah batal, dan dia bukanlah termasuk golongan orang-orang yang musyrik, dia seorang yang berserah diri kepada Allah SWT semata.

Paham bahwa berhala bukanlah Tuhan, Nabi Ibrahim dengan kecerdikannya langsung merencanakan sesuatu pada Raja Namrud dan para pengikutnya.

Pada suatu hari Raja Namrud melakukan perjalanan keluar kota bersama sebagian besar pengikutnya selam beberapa hari. Wilayah kekuasaan Namrud pun nyaris kosong, kemudian Nabi Ibrahim masuk dan menghancurkan semua berhala yang ada di wilayah Namrud, semua patung-patung dihancurkan, walaupun itu adalah buatan ayahnya sendiri.

Nabi Ibrahim AS hanya menyisakan satu berhala yang tidak dirusaknya, itu adalah berhala yang paling besar, kemudian dia meletakkan kapak yang dipakai untuk menghancurkan patung-patung lainnya di pangkuan berhala satu-satunya yang tak dirusaknya.

Setelah beberapa hari Raja Namrud mengetahui semua berhalanya rusak sehingga membuat ia murka. “Siapa yang melakukan semua ini di belakangku?” teriaknya pada pengikutnya. Salah satu pengikutnya yang kebetulan tidak turut pergi bersama Namrud mengatakan bahwa ada seorang pemuda bernama Ibrahim yang melakukan itu semua. Yang membuat  Nabi Ibrahim dipanggil untuk menghadap Raja Namrud.

Dengan geram sang raja berkata kepada Nabi Ibrahim: “Wahai Ibrahim, bukankah engkau yang telah menghancurkan berhala-berhala ini?”

“Bukan!” jawab Ibrahim singkat. Mendengar jawaban itu, Raja Namrud semakin geram dan berkata: “Lalu siapa lagi kalau bukan engkau, bukankah kau berada di sini saat kami pergi dan bukankah engkau membenci berhala-berhala ini?”

“Ya, tapi bukan aku yang menghancurkan berhala-berhala itu. Aku pikir, berhala besar itulah yang menghancurkannya, bukankah kampaknya masih berada di lehernya?” sahut Ibrahim dengan tenang.

Raja Namrud membantahnya: “Mana mungkin patung berhala dapat berbuat semacam itu!”. Mendengar hal itu dengan tegas Nabi Ibrahim berkata: “Kalau begitu, kenapa engkau menyembah berhala yang tidak dapat berbuat apa-apa?”

Mendengar pernyataan Ibrahim, para pengikutnya tersadar dan terpikir oleh mereka Tuhan yang selama ini disembah tidak dapat melihat, mendengar, dan bergerak. Namun, Raja Namrud semakin murka.

Merasa semakin Geram dan kesalnya Raja Namrud, akhirnya ia memerintahkan para tentaranya untuk menghukum Nabi Ibrahim dengan seberat-beratnya. Nabi Ibrahim dihukum mati dengan jalan dibakar hidup-hidup.

Api dinyalakan besar sekali dengan kayu sebagai bahan bakarnya, sementara Nabi Ibrahim diikat dan ditempatkan di tengah-tengah tumpukan kayu. Tetapi Allah lebih berkuasa dalam segala hal. Allah belum menghendaki Nabi Ibrahim mati dan kalah oleh Raja Namrud.

Menyaksikan proses pembakaran itu, Raja Namrud dan para pengikutnya tertawa dengan penuh kepuasan, mereka mengira, Nabi Ibrahim telah hancur menjadi abu bersama api itu. Namun, begitu terkejutnya mereka setelah api yang menyala dahsyat itu padam. Â Nabi tiba-tiba berjalan keluar dari puing-puing pembakaran dengan selamat tanpa luka sedikit pun.

Sejak saat itu, pengikut Namrud berpaling dan menjadi umat Nabi Ibrahim untuk terus lurus ke jalan Allah SWT.

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kehidupan kita, jangan lupa sampaikan cerita ini kepada orang lain agar tahu kisah perjuangan para rasul allah swt dalam menyebarkan agama allah swt.

Saling berbagi ilmu saling mengingatkan saling memberi masukan.

More Info https://wa.me/6287886752215