KABARNUSANTARA.ID – Nabi dalam kata bahasa Arab berasal dari “Naba” yang memiliki arti pemberitahuan yang tidak mungkin salah. Menurut ahli bahasa Arab Nabi memiliki arti duta besar antara Tuhan dan makhluk yang berakal atau manusia. Para ulama mengatakan Nabi memiliki arti orang yang memberikan informasi tentang ajaran Tuhan.

Sejarah peradaban Nabi dan Rasul dalam agama Islam mengandung unsur moral spiritual dengan berbagai macam makna. Unsur moral dalam setiap ajaran-Nya selalu berdasarkan fenomena-fenomena yang terjadi pada umat saat itu.

Dalam riwayat sejarah para Nabi dan Rasul terdapat beberapa kaum yang dibimbing oleh para Nabi salah satu kaum yang paling sering disebut dalam sejarah maupun kitab yaitu kaum Bani Israil.

Nabi Ilyas adalah putra Yasin bin Finhash dan salah satu keturunan Nabi Harun. Nabi Ilyas diutus oleh Allah SWT untuk menjadi seorang Nabi dan menjadi pembimbing bagi kaum Yordan. Beliau diberi amanat untuk membawa kaum Bani Israil kembali pada ajaran Allah. Ketika itu kaum Bani Israil terkenal akan kebiasaan menyembah berhala yang bernama Baal.
Silsilah Keluarga Nabi Ilyas
Ibnu Katsir meriwayatkan dalam bukunya mengenai silsilah keluarga dari Nabi Ilyas. Bermula dari kisah Nabi Harun yang merupakan leluhur dari Nabi Ilyas. Dalam kitab Al-Quran kisah Nabi Harun sering disebut berdampingan dengan kisah Nabi Musa karena ditempatkan pada wilayah dan masa yang sama dengan Musa.

Pada masa itu Nabi Harun dan Nabi Musa tengah menyelamatkan kaumnya dan keluar dari wilayah Mesir dari raja Firaun. Raja Firaun merupakan raja dengan sifat diktator selalu bertindak diluar batas (zalim).

Firaun telah berpaling dari ajaran Tuhan. Raja tersebut selalu membeda-bedakan rakyatnya berdasarkan golongan dan membuat rakyatnya terpecah belah. Bani Israil adalah kelompok masyarakat yang tidak disukai Firaun pada masa tersebut.

Pada masa Firaun menjabat sebagai raja, Bani Israil termasuk kedalam masyarakat terbaik namun kaum Bani Israil dipimpin oleh raja yang berbuat kerusakan. Bani Israil tengah aktif mempelajari kitab firman Tuhan yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim. Di dalam kitab tersebut telah dinyatakan akan lahir seorang laki-laki keturunan Ibrahim yang akan menghancurkan raja mesir yang sedang berkuasa.

Kabar tersebut telah menyebar luas secara turun-temurun hingga diketahui pada generasi Firaun. Firaun mengantisipasi dengan memerintahkan kepada pengikutnya agar membunuh setiap anak laki-laki Bani Israil, namun Firaun tidak bisa mencegah takdir yang disampaikan oleh Tuhan dalam kitab-Nya.
Hubungan Dengan Kisah Nabi Musa dan Nabi Harun
Setelah Nabi Musa berhasil mengeluarkan umatnya yaitu Bani Israil dari Mesir, Nabi Musa mengutus Nabi Harun untuk menjaga kaumnya agar kaumnya tidak tersesat. Nabi Musa kemudian menuju bukit Sinai untuk berkhalwat dan berpuasa selama empat puluh hari untuk menerima wahyu selanjutnya dari Tuhan. Setelah Nabi Musa menjalankan tugasnya untuk menerima wahyu lalu kembali ke tempat Nabi Harun tinggal bersama kaumnya.

Namun Nabi Musa mendapati kaumnya telah disesatkan oleh sorang bernama Samiri dalam kelompoknya dan berpaling dari ajaran Tuhan mereka menyembah patung sapi yang terbuat dari emas, kaumnya beranggapan bahwa Nabi Harun merupakan orang yang lemah sehingga tidak menuruti Nabi Harun yang saat itu menjadi pemimpin umatnya.

Saat itu Nabi Musa memerintahkan kepada tujuh puluh orang terbaik di kaum tersebut untuk pergi ke bukit Sinai untuk bertaubat dan memohon ampun mewakili seluruh kaumnya yang telah menyimpang ditemani oleh Nabi Musa. Setelah mereka sampai kemudian bersujud, saat bersujud memohon ampun mereka mendengar percakapan Nabi Musa dengan Tuhan lalu timbullah keinginan dalam benak mereka keinginan untuk melihat Tuhan.

Setelah mendengar percakapan tersebut kaumnya berkata dengan lancang kepada Nabi Musa bahwa mereka tidak akan menyembah Tuhan kecuali mereka diperlihatkan wujud-Nya secara nyata. Sebagai jawabannya Tuhan menurunkan petir kepada tujuh puluh orang tersebut dan merenggut nyawa mereka sekaligus. Nabi Musa yang melihat tujuh puluh kaum terbaiknya wafat memohon kepada Tuhan agar mereka dihidupkan kembali dan memaafkan segala dosa yang telah diperbuat kaumnya. Setelah Nabi memohon lalu mereka dihidupkan kembali dan berjanji untuk menaati segala perintah yang dibenarkan oleh Tuhan.
Bukti Nabi Ilyas Adalah Rasul Allah
Perjuangan para Nabi yang menghadapi kaum Bani Israil setelah Nabi Harun berlanjut kepada keturunannya Nabi Ilyas. Nabi Ilyas yang menurut ahli garis keturunan merupakan keluarga dari Nabi Harun. Beliau adalah Ibnu Yasin bin Fanhash bin al-Izar bin Harun.

“Dan sesungguhnya Ilyas termasuk salah seorang dari rasul-rasul. (Ingatlah) ketika ia berkata kepada kaumnya: ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Pantaskah kamu menyembah Ba’l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta, yaitu Allah Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu?’ Maka mereka mendustakannya, karena itu mereka akan diseret (ke neraka), kecuali hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). Dan Kami abadikan untuk Ilyas (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. (Yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ilyas?. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaffat: 123-132).

Penggalan ayat tersebut merupakan penggalan ayat dari surat Ash-Shaffat yang membuktikan bahwa Ilyas termasuk ke dalam Rasul Allah di dalam kitab AlQuran. Ibnu Katsir telah meriwayatkan dalam tafsir yang telah ditulisnya mengenai kisah Nabi Ilyas.
Nabi Ilyas Mengurus Kaum Bani Israil
Nabi Ilyas pertama diutus diperkirakan tahun 870 sebelum masehi dan periode sejarahnya diperkirakan 910-850 SM. Nabi Ilyas diutus di daerah Ba’labak sebelah barat Damaskus di mana penduduknya yaitu kaum Bani Israil menyembah berhala. Nama kota Ba’labak atau disebut juga dengan Ba’albek berasal dari nama berhala yang disembah kaum Bani Israil. Berhala tersebut bernama Ba’la, yang merupakan patung yang terbuat dengan emas.

Nabi Ilyas diutus oleh Allah SWT untuk memerintahkan kepada kaum Bani Israil semua untuk meninggalkan berhala dan menyembah kepadaNya. Namun raja dan kaum Bani Israil pada masa itu menolak seruan Nabi Ilyas karena mereka lebih mempercayai berhala. Mereka kemudian menantang kepada Tuhan yang disembah oleh Nabi Ilyas untuk mendatangkan bencana sebagai bukti bahwa Tuhan yang Nabi Ilyas sembah benar-benar ada.

Kaum Bani Israil juga bersengkongkol agar dapat mengusir Nabi Ilyas dengan melempari batu dan diancam akan dibunuh. Karena ancaman yang diberikan kaum Bani Israil, Nabi Ilyas terpaksa meninggalkan perkampungan itu dan berpindah-pindah tempat. Ia kemudian memutuskan bersembunyi di sebuah gua. Selama berada dalam gua, Allah memberikan bantuan berupa burung gagak yang membawa makanan untuk dimakan oleh Nabi Ilyas.

Bencana pun datang kepada kaum Bani Israil di kota Ba’labak bencana kekeringan telah merenggut nyawa dari penduduk satu demi satu. Bencana tersebut telah membuat kekacauan di kota Ba’labak binatang ternakpun ikut menjadi korban dalam bencana itu. Bani Israil meyakini bahwa bencana ini merupakan bencana yang ditimpakan Ba’al karena Nabi Ilyas telah berdakwah di kota tersebut. Bani Israil bersama raja bersepakat untuk mencari Nabi Ilyas dan mengusirnya dari kota Ba’labak.
Nabi Ilyas Bertemu Ilyasa
Pada suatu hari, persembunyian Nabi Ilyas diketahui oleh raja dan kaum Bani Israil. Nabi Ilyas merasa dalam bahaya, maka ia terpaksa berpindah tempat dengan menyusuri sungai. Nabi Ilyas lalu menemukan sebuah rumah terpencil, memberikan salam dan bertemulah ia dengan salah satu tuan rumah yang merupakan seorang perempuan. Nabi Ilyas meminta izin untuk bersembunyi di situ.

Saat itu, di rumah tersebut ada satu laki-laki dari anggota keluarga yang sedang sakit parah. Nabi Ilyas kemudian berdoa kepada Tuhan untuk kesembuhan anggota keluarga yang sedang sakit itu atas ucapan terimakasih karena telah diizinkan bersembunyi. Akhirnya, anggota keluarga yang sedang sakit itu sembuh atas izin Tuhan.

Ternyata anggota keluarga yang sedang sakit itu merupakan Ilyasa yang tidak lama setelah itu diangkat menjadi Nabi setelah belajar bersama Nabi Ilyas kemudian mengikuti ajaran Nabi Ilyas dan ikut berdakwah bersamanya.
Doa Nabi Ilyas Untuk Bani Israil
Setelah beberapa tahun, Nabi Ilyas dan Nabi Ilyasa melanjutkan dakwahnya kepada penduduk Ba’labak yang sudah mulai berputus asa terhadap bencana yang dialami kota tersebut karena berhala yang disembahnya tidak bisa menyembuhkan penderitaan kaum mereka.

Bani Israil kemudian berjanji bahwa mereka akan mengikuti apa yang diperintahkan Nabi Ilyas. Akhirnya Nabi berdoa kepada Allah dengan izinNya, kaum Bani Israil terlepas dari penderitaan. Para Bani Israil menghancurkan patung-patung Ba’al yang sebelumnya disembah oleh kaum tersebut. Setelah itu perkampungan Bani Israil diturunkan hujan kemudian sawah dan ladang dijadikan subur kembali serta binatang ternak berkembang secara subur mereka hidup dengan damai.
Bani Israil Ingkar Janji
Namun setelah beberapa tahun kemudian kaum Bani Israil kembali ingkar dan kembali menyembah berhala. Nabi Ilyas berdoa kembali kepada Tuhan agar mereka dibukakan hatinya. Tetapi akhirnya bencana kekeringan melanda kaum Bani Israil kembali, dan Nabi Ilyas meninggalkan kaumnya dari perkampungan tersebut. Setelah Nabi Ilyas meninggalkan kaumnya diriwayatkan Nabi Ilyas telah wafat dengan cara diangkat oleh Tuhan ke langit. [edl]

Baca juga:
Kisah Nabi Zulkifli Tentang Kesabaran yang Luar Biasa, Patut Diteladani
Sa’id bin Amir, Pemimpin Sederhana Bikin Umar bin Khattab Terharu
Kisah Nabi Harun, Saudara yang Selalu Setia Menemani Dakwah Nabi Musa
Kisah Nabi Sulaiman: Memiliki Mukjizat Bisa Memindahkan Istana Ratu Balqis
Mengenal Fatimah Al Fihri, Pendiri Universitas Pertama di Dunia Era Keemasan Islam