ISLAMI, KABARNUSATARA.ID – Nabi Musa merupakan salah satu utusan Allah SWT yang hidup di Mesir pada zaman kekejaman raja Firaun. Salah satu mukjizat dari Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Musa ialah kemampuannya membelah lautan. Sehingga dengan mukjizat ini beliau dan para pengikutnya dapat menghindari kejaran pasukan Firaun.

Kesabaran serta keteguhan hati Nabi Musa dalam menghadapi raja zalim ini menjadikan beliau termasuk Nabi dan Rasul Ulul Azmi. Kata ulul azmi berasal dari dua kata, yakni ulul dan azmi. Arti dari kata ulu atau uli adalah memiliki, sedangkan azmi berarti tekad atau keteguhan hati yang kuat.

Berikut ini kisah Nabi Musa saat membelah laut merah dan kemenangannya membinasakan Firaun dan pengikutnya.

Kelahiran Nabi Musa

Pada zaman dahulu, Negeri Mesir dipimpin oleh seorang raja zalim bernama Firaun. Ia merupakan raja yang sewenang-wenang menindas penduduknya. Firaun juga dikenal sebagai raja sombong, suka memperbudak dan memecah belah penduduknya serta mempekerjakan mereka dengan kerja paksa.

Suatu hari Firaun bermimpi ada api yang datang dari Baitul Maqdis yang membakar Negeri Mesir kecuali rumah-rumah kaum Bani Israil. Merasa ada yang janggal dari mimpinya, akhirnya Firaun mengumpulkan para peramal dan ahli sihir untuk menanyakan arti mimpi tersebut.

Kemenangan Nabi Musa Membinasakan Firaun

Setelah Musa di utus oleh Allah SWT menjadi Nabi, penduduk Mesir semakin fanatik dengan penguasa mereka yaitu Firaun. Dengan sewenang-wenang Firaun berhasil menekan penduduk agar mengingkari ajaran yang dibawa Nabi Musa. Hal ini sebagaimana Allah berfirman dalam salah satu surah, yang artinya:

“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Firaun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (QS:Yunus Ayat: 83).

Selama bertahun-tahun Nabi Musa dan para pengikutnya telah bersabar menghadapi raja Firaun dan tentaranya yang dengan sewenang-wenang terus menindas. Tak hanya itu, semakin hari Firaun juga semakin menentang dan memusuhi kebenaran. Pada puncaknya Firaun dengan segala kesombongannya mengaku kalo dirinya adalah Tuhan. Maka dari itu, Nabi Musa senantiasa berdoa kepada Allah sebagai berikut.

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS:Yunus Ayat: 88).

Nabi Musa Membelah Lautan

Hingga akhirnya atas izin Allah SWT Nabi Musa dan para pengikutnya memutuskan untuk keluar dari Mesir dan menuju Syam. Mendengar kabar ini kemarahan Firaun semakin memuncak. Sehingga ia mempersiapkan tentaranya untuk mengejar Nabi Musa dan para pengikutnya.

Pasukan Firaun terus mengejar Nabi Musa serta pengikutnya. Beberapa pengikut Nabi Musa mengadu bahwa pasukan Firaun hampir menyusuli mereka. Pasalnya di hadapan mereka jalan tertutup lautan, kemudian Nabi Musa berkata,

“Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS:Asy-Syu’ara Ayat: 62).

Pada saat itu keadaan benar-benar genting dan terhimpit dialami Nabi Musa dan pengikutnya. Namun dengan segala kekuatan iman yang dimiliki, Nabi Musa berusaha menenangkan para pengikutnya. Setelah itu turunlah wahyu Allah SWT kepada Musa.

“Pukullah lautan itu dengan tongkatmu” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS:Asy-Syu’ara Ayat: 63).

Setelah lautan terbelah, Nabi Musa dan para pengikutnya bergegas melintasi jalan tersebut. Kemudian disusul Firaun dan pasukannya yang mencoba untuk ikut melintasi jalan tersebut, akan tetapi lautan telah Kembali seperti semula, akhirnya Firaun dan pengikutnya tenggelam. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam salah satu surah, yang artinya:

“Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS:Asy-Syu’araa Ayat: 65-67)

Perintah Firaun

Para peramal mengartikan bahwa akan lahir seorang bayi laki-laki dari keturunan Bani Israil yang akan membinasakan penduduk Mesir. Mendengar arti mimpi tersebut, Firaun sangat ketakutan. Maka Ia memerintahkan apabila ada anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil untuk segara dibunuh.

Musa lahir pada saat pembunuhan terhadap anak laki-laki tengah berlangsung. Oleh karena itu Ibunya memilih menjauh dan mencari tempat yang aman dari jangkauan tentara Firaun. Allah SWT mengilhami ibu Musa untuk menyusuinya dan meletakkannya di dalam peti kemudian di taruh ke sungai.

Dalam sebuah surah, Allah berfirman:

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS. Al Qashash: 7).

Bayi Musa Ditemukan Istri Firaun

Hingga suatu ketika, Ibu Nabi Musa lupa menarik tali peti tersebut dan membuat anaknya terbawa arus sungai Nil. Kemudian peti yang mengambang di sungai tersebut terbawa ke istana Firaun dan ditemukan oleh istri Firaun yang bernama Asiyah.

Istri Firaun merupakan wanita yang mandul, sehingga bertekad untuk merawat dan menjaga bayi yang ditemukannya dari pembunuhan.

Dengan penuh rasa kasihan Asiyah membawa bayi Musa ke hadapan suaminya. Seperti yang tercantum dalam salah satu surah berikut ini.

“(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak.” (QS. Al Qashash:9).

Saat itu juga Firaun menyetujui permintaan istrinya untuk tidak membunuh bayi tersebut dan diangkat menjadi anak.

Bayi Musa Kembali Ke Ibunya

Pada suatu hari ketika Asiyah istri Firaun sedang menggendong bayi Musa dengan penuh kebahagiaan, ia berpikir perlunya anak tersebut disusui. Sehingga Asiyah menghadirkan beberapa ibu susu untuk menyusui bayi Musa. Akan tetapi bayi Musa menolak pemberian susu ibu-ibu tersebut.

Hingga akhirnya Ibu kandung Nabi Musa mengetahui berita tentang anaknya yang berada di Istana Firaun. Ia pun segera ke istana dan langsung menyusui anaknya hingga kenyang. Kemudian ibu Musa Kembali ke rumah dan membawa anaknya dengan penuh rasa bahagia.

Selama bertahun-tahun Nabi Musa dan para pengikutnya telah bersabar menghadapi raja Firaun dan tentaranya yang dengan sewenang-wenang terus menindas. Tak hanya itu, semakin hari Firaun juga semakin menentang dan memusuhi kebenaran.

Pada puncaknya Firaun dengan segala kesombongannya mengaku kalo dirinya adalah Tuhan. Maka dari itu, Nabi Musa senantiasa berdoa kepada Allah sebagai berikut.

Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS:Yunus Ayat: 88).

Nabi Musa Membelah Lautan

Hingga akhirnya atas izin Allah SWT Nabi Musa dan para pengikutnya memutuskan untuk keluar dari Mesir dan menuju Syam. Mendengar kabar ini kemarahan Firaun semakin memuncak. Sehingga ia mempersiapkan tentaranya untuk mengejar Nabi Musa dan para pengikutnya.

Pasukan Firaun terus mengejar Nabi Musa serta pengikutnya. Beberapa pengikut Nabi Musa mengadu bahwa pasukan Firaun hampir menyusul mereka. Pasalnya di hadapan mereka jalan tertutup lautan, kemudian Nabi Musa berkata,

“Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS:Asy-Syu’ara Ayat: 62).

Pada saat itu keadaan benar-benar genting dan terhimpit dialami Nabi Musa dan pengikutnya. Namun dengan segala kekuatan iman yang dimiliki, Nabi Musa berusaha menenangkan para pengikutnya. Setelah itu turunlah wahyu Allah SWT kepada Musa.

“Pukullah lautan itu dengan tongkatmu” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (QS:Asy-Syu’ara Ayat: 63).

Setelah lautan terbelah, Nabi Musa dan para pengikutnya bergegas melintasi jalan tersebut. Kemudian disusul Firaun dan pasukannya yang mencoba untuk ikut melintasi jalan yang dilalui Nabi Musa dan pasukannya.

Namun lautan telah kembali seperti semula setelah Nabi Musa dan pasukkan melewatinya. Firaun dan pengikutnya pun tenggelam. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam salah satu surah, yang artinya:

“Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS:Asy-Syu’araa Ayat: 65-67)