ISLAMI,KABARNUSANTARA.ID –  Al-Qur’an adalah kitab suci yang Allah SWT turunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan di dalamnya terdapat kisah umat-umat terdahulu. Kisah yang terkandung dalam Al-Qur’an antara lain adalah kisah Nabi Yusuf AS. Dimulai dari mimpi, terpisah dari ayahnya sampai berkumpul kembali dengan keluarga di Mesir yang diambil dari surat Yusuf. Kisah ini lebih menekankan pada suka duka kehidupan Nabi Yusuf di waktu kecil.

Kisah dukanya dimulai dari terpisah dengan ayahnya; dijebloskan ke sumur. Sampai akhirnya ia mengalami masa suka dalam kehidupannya; bertemu dengan sanak keluarga yang telah lama berpisah dan berkumpul dalam satu negara yaitu Mesir.

Nabi Yusuf adalah anak bungsu Nabi Yakub AS. Kisah Nabi Yusuf disebut kisah terindah dikarenakan beberapa alasan. Pertama, kisah ini paling terinci dari segala kisah yang ada di dalam al Qur’an. Kedua, sepenuhnya membahas mengenai perubahan sifat manusia. Ketiga, penggambaran dengan warna yang hidup, keterlibatan secara rohani, segi kehidupan yang beraneka ragam, membuat begitu banyak pelajaran yang terdapat di dalamnya.

Berikut adalah kisah Nabi Yusuf AS selengkapnya.

Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Quran

Kisah Yusuf AS yang diceritakan oleh al-Qur’an merupakan kisah yang amat panjang, karena terdiri dari rangkaian-rangkaian peristiwa yang satu sama lainnya saling berhubungan membentuk suatu kronologis. Namun layaknya pemaparan sebuah kisah pada umumnya, kisah Yusuf AS juga memuat peristiwa-peristiwa yang menjadi alur sentral jalannya cerita.

Yang dimaksud dengan alur sentral cerita di sini adalah peristiwa pangkal yang melahirkan rangkaian peristiwa yang mengiringinya. Tanpa terjadinya alur sentral cerita ini, tidak akan lahir peristiwa-peristiwa berikutnya.

Dalam al-Quran, kisah Nabi Yusuf secara keseluruhan tertera dalam surat Yusuf (QS.12), diturunkan di Mekah, terdiri atas 111 ayat, dan terletak setelah surat Hud (11) dan sebelum surat Ar-Ra’ad (13). Menurut Quraish Shihab, turunnya surat ini bertujuan untuk menguatkan hati nabi yang saat itu sedang dirundung kesedihan akibat wafatnya istri dan pamannya; Siti Khadijah dan Abu Thalib.

Adapun menurut al Biqâ’i, tujuan utama turunnya kisah ini adalah untuk membuktikan bahwa kitab suci Al-Quran benar-benar merupakan penjelasan menyangkut segala sesuatu yang mengantar pada petunjuk (tilka âyâtul kitâbil Mubîn), berdasar pengetahuan dan kekuasaan Allah swt secara menyeluruh, baik yang nyata maupun yang gaib.

Kisah Nabi Yusuf terdiri atas 10 bagian, yaitu mimpi Nabi Yusuf, Nabi Yusuf disingkirkan saudaranya, Nabi Yusuf dijual kepada orang Mesir, rayuan istri orang kepada Nabi Yusuf, jamuan makan, dalam penjara, mimpi raja dan kebebasan Nabi Yusuf, Nabi Yusuf menjadi pejabat pemerintah, pertemuan dengan keluarga, dan i’tibar dari kisah Nabi Yusuf.

Mimpi Nabi Yusuf AS

Nabi Yusuf bermimpi melihat 11 bintang, serta matahari dan bulan bersujud kepadanya. Mimpi Nabi Yusuf AS tersurat pada ayat ke-4. Secara tersurat, ayat ini menceritakan Yusuf remaja menyampaikan kepada sang ayah (Nabi Ya’qub as) bahwa ia telah bermimpi yang aneh. Dalam mimpinya ia menyaksikan sebelas bintang serta matahari dan bulan bersujud kepada dirinya.

Mimpi aneh Yusuf membuat ayahnya memiliki keyakinan bahwa kelak Yusuf akan menjadi orang penting dan memiliki kekuasaan. Juga terbersit harapan di hati sang ayah bahwa Yusuf-lah yang akan meneruskan nubuwwah (kenabian) yang diwariskan moyang mereka, Nabi Ishaq as dan Nabi Ibrahim as.

Peristiwa pokok ini melahirkan peristiwa pengiring berupa kecemburuan dan merasa diperlakukan tidak adil dalam hal kasih sayang yang tertanam dalam hati saudara-saudara Yusuf as (ayat 8).

Nabi Yusuf Disingkirkan Para Saudaranya

Nabi Yusuf AS disingkirkan saudara-saudaranya yang tersurat pada ayat ke-9 sampai 10. Saudara-saudara Yusuf AS mencari jalan bagaimana caranya agar kasih dan sayang sang ayah kembali tertumpah kepada mereka. Upaya yang ditempuh ialah dengan menjerumuskan Yusuf as ke dalam sumur yang dalam.

Umumnya, seorang anak kecil yang diletakkan dalam sumur dalam keadaan tak berbaju lalu ditinggalkan saudaranya, pastilah ada rasa takut, cemas, khawatir melalui tangisan dan jeritan. Tetapi Nabi Yusuf tidak demikian. Ia terhibur dengan makna mimpi yang diceritakan sang ayah. Apalagi, ia mendapat wahyu ketika berada di sumur itu bahwa ia tidak perlu khawatir dan pasti Allah akan menyelamatkannya.

Sampai di sini, cerita tentang Yusuf AS sementara waktu berhenti. Pada ayat-ayat berikutnya al-Qur’an hanya meneruskan cerita tentang saudara-saudaranya setelah berhasil menjerumuskan dirinya ke dasar sumur, termasuk penjelasan alibi dan alasan yang mereka kemukakan kepada sang ayah perihal terbunuhnya Yusuf as akibat diterkam serigala.

Cerita Yusuf as kembali dimunculkan namun dengan gaya penokohan pasif, yaitu tatkala ia ditemukan oleh kafilah yang kemudian membawanya ke Mesir, menjualnya sebagai budak, dan akhirnya dipungut sebagai anak angkat oleh pembesar Mesir.

Nabi Yusuf Dijual Pada Orang Mesir

Para musafir merasa senang ketika menemukan Nabi Yusuf. Kesenangan itu akibat prediksi keuntungan ekonomis yang akan mereka peroleh. Orang yang membeli Nabi Yusuf pun merasa senang. Hal ini diketahui dari sikapnya terhadap Nabi Yusuf, karena mereka menjadikannya sebagai anak, dan nabi Yusuf diberi tempat dan pelayanan yang baik.

Nabi Yusuf sebagai perantara rasa bahagia ini menjadikan keluarga ini memperlakukan Nabi Yusuf secara baik. Keluarga yang dimaksud adalah keluarga seorang menteri yang memiliki istri bernama Zulaikha.

Cinta dan tipu daya istri pembesar Mesir terhadap Yusuf AS yang tersurat pada ayat ke-23 sampai 29. Pada ayat-ayat ini dikisahkan bagaimana istri pembesar Mesir itu—Zulaikha—menggoda dan merayu Yusuf AS agar bersedia menuruti hasratnya. Ketika peristiwa itu diketahui oleh pembesar Mesir, ia meminta Yusuf AS merahasiakannya dari publik.

Namun serapat-rapat rahasia itu disimpan, akhirnya diketahui juga oleh para wanita di kota (kalangan istana). Maka, alur sentral ketiga ini melahirkan peristiwa pengiring berupa tanggapan para wanita kota atas peristiwa yang telah terjadi dan tindakan isteri al-‘Aziz (perdana menteri) terhadap mereka, juga peristiwa dipenjarakannya Yusuf AS.

Rayuan Zulaikha

Terjadi rayuan seorang istri yaitu Zulaikha, kepada Nabi Yusuf. Istri orang Mesir yang mengetahui perkembangan nabi Yusuf dari hari ke hari, melihat keindahan parasnya, kejernihan matanya, kegagahan dan kehalusan budinya menyebabkan ia jatuh hati padanya. Dikatakan istri itu menggodanya untuk menundukkannya. Ini berarti bahwa upaya menggoda itu tidak hanya sekali, tetapi beberapa kali supaya tunduk.

Berdasarkan sikap yang ditampakkan oleh Zulaikha dan Nabi Yusuf, diketahui bahwa secara psikologis, Zulaikha mengalami frustasi karena keinginannya yang berkali-kali ditolak hingga ia memaksa Nabi Yusuf.

Jamuan Makan Zulaikha

Selanjutnya, terdapat jamuan makan (QS.12:30). Para undangan yang terdiri atas para wanita itu menggunjing sikap istri Al-Aziz yang menggoda Yusuf. Maka ketika ia mendengar gunjingan itu, istri Al-Aziz meminta para wanita itu untuk memegang pisau dan buah. Terperangahlah mereka ketika melihat Nabi Yusuf yang sangat tampan sampai terpotonglah jari tangan mereka.

Nabi Yusuf AS Dipenjara

Nabi Yusuf berada di penjara bersama dua orang pemuda. Di penjara inilah Nabi Yusuf menjadi pena’wil mimpi 2 orang pemuda tadi.

Pena’wil pertama menggembirakan bagi yang menerima mimpi itu, yaitu ia akan kembali ke rumah tuannya, melakukan pekerjaan semula dan takwil kedua merupakan takwil yang mencekam jiwa yang bermimpi itu sehingga ia berkata bahwa mimpinya tadi hanyalah bohong belaka. Takwilnya adalah ia akan disalib dan digantung, lalu burung makan sebagian kepalanya.

Nabi Yusuf AS Menafsirkan Mimpi Raja

Nabi Yusuf mendapat kesempatan untuk menakwilkan mimpi sang raja. Karena ta’wilnya benar, maka ia dibebaskan. Mimpi al-‘Aziz yang tersurat pada ayat ke-43 dan 44, serta kebebasan Yusuf as yang tersurat pada ayat ke-50 sampai 55. Pada alur sentral ini al-Qur’an kembali memunculkan tokoh baru yaitu raja Mesir. Kemunculan tokoh baru ini nantinya akan semakin memperkuat keberadaan tokoh utama yakni Yusuf AS.

Pada babak ini diceritakan bahwa raja mengalami mimpi yang unik. Maka, ia mencari ta’bir (makna mimpi)nya kepada dukun-dukun dan orang-orang yang berhubungan dengan perkara ghaib, namun tak seorang pun berhasil mena’birkannya. Yusuf AS pun mendengar kabar tentang mimpi raja Mesir setelah diberitahu mantan tahanan yang pernah bersamanya dalam penjara. Maka Yusuf as mena’birkan mimpi tersebut.

Inilah awal mula perkenalan dan ketertarikan raja Mesir terhadap diri Yusuf AS. Dan kisah terus berlanjut hingga terbongkarnya tipu daya istri Perdana Menteri (Zulaikha) dan terbuktinya kebenaran atas diri Yusuf AS.

Nabi Yusuf AS Menjadi Pejabat Pemerintah

Kisah Nabi Yusuf menjadi pejabat pemerintah (QS.12: 54-55). Ia minta jabatan sebagai bendaharawan Negara. Permintaan ini didorong oleh rasa percaya diri Nabi Yusuf dan sikapnya yang jujur. Ia meminta jabatan sesuai dengan spesifikasi yang dimilikinya, yaitu عليم حفيظ chafîdzun ‘alîm.

Nabi Yusuf AS Bertemu Keluarganya

Kisah Nabi Yusuf dipertemukan dengan keluarganya (Qs.12:58-61). Para saudara Nabi Yusuf yang datang padanya untuk mengambil jatah bahan makanan yang dibagikan kepada penduduk Mesir dan sekitarnya. Rasa rindu Yusuf kepada Benyamin dan ayahnya yang telah terpendam lama, mendapatkan kesempatan untuk bertemu.

Itibar Kisah Nabi Yusuf

Adapun episode kesepuluh merupakan i’tibar dari kisah nabi Yusuf (QS.12: 102-111), di antaranya menjelaskan prinsip-prinsip segala yang dibutuhkan manusia menyangkut kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat.

Kisah Nabi Yusuf memberikan pelajaran bagaimana seseorang yang harus tetap teguh pada keimanan dan prinsip-prinsip Islam meskipun menghadapi berbagai ujian dan cobaan hidup yang silih berganti. Kesabaran dan tidak putus asa serta bertawakkal akan membuahkan kesuksesan. Kejujuran akan membawa manusia pada derajat yang tinggi. Rasa takut kepada Allah dan selalu merasa dalam pengawasan Allah telah membuat manusia terhindar dari perbuatan keji. Allah akan selalu menolong hambanya yang selalu berdoa, baik di kala sempit maupun di kala lapang.

Melalui kisah ini, terdapat pelajaran bagi umat manusia untuk selalu menuntut ilmu dan berbuat baik dan menebarkan kebaikan serta menjadi pemaaf bagi para pendengki.