KABAARNUSANTARA.ID – Bank Indonesia (BI) mencermati perkembangan digital terus memperkuat posisi pelaku industri financial technology (fintech) untuk bersaing dengan perbankan. Namun, bank sentral menilai, kompetisi ini bisa dimanfaatkan oleh kedua sektor untuk saling berkolaborasi memperkuat sistem pembayaran di Indonesia.

Principal Economist Payment System Policy Department BI Agung Purwoko mengatakan, kebanyakan transaksi uang elektronik saat ini disediakan oleh lembaga selain bank. Khususnya penyedia e-money yang server based.

“Jadi dalam 5 tahun pangsa non-bank meningkat, khususnya di area payment. Ini yang jadi penting untuk dicermati, industri juga sudah berubah dan muncul pelaku baru,” kata Agung dalam sesi webinar, Rabu (21/10).

Menurut pengamatan, pelaku fintech kerap hadir dengan memperkuat ekosistem. Mereka terkoneksi dengan berbagai macam ekosistem industri, mulai dari e-commerce, logistik, restoran, hingga lending

“Ini kemudian memicu bank juga untuk mulai berkolaborasi. Jadi bank yang semula berbasis kantor cabang sekarang kita lihat tren kantor cabang terus menurun,” ungkapnya.

Mengantisipasi hal ini, beberapa pelaku bank disebutnya dengan tengah merombak cara bisnisnya. Beberapa telah mengadopsi program analisis statistik OpenEPI, sehingga Agung menilai kerjasama bank dengan fintech semakin terbuka.

“Jadi memang yang kita lihat sekarang adalah kompetisi antara fintech dan bank. Ke depan juga nanti bisa juga yang sekarang ada beberapa tren, bagaimana bank menggunakan ekosistem dari fintech untuk membuka rekening bank,” tuturnya.

“Jadi memang kemungkinan-kemungkinan ini terus bergerak. Kolaborasi dengan mengoptimalkan yang dimiliki masing-masing pihak,” ujar Agung.

Reporter: Deni H M