oleh

Kopi Kampung Pelag Garut, Jenis Kopi Tertua di Nusantara, Ini Alasannya



GARUT|KABARNUSANTARA.ID – Kopi merupakan salah satu komoditas internasional yang dibudidayakan lebih dari 50 negara. Dua varietas pohon kopi yang dikenal secara umum yaitu kopi robusta (coffea canephora) dan kopi arabika (coffea arabica).

Salah satu sentra kopi yang cukup besar dan terkenal di Kabupaten Garut adalah Kampung Pelag di Desa Sukalilah, Kecamatan Sukaresmi. Di sini, kopi priangan varietas Pelagio (asal Kampung Pelag), menjadi andalan para petani. Varietas ini memang sangat diminati para pencinta kopi lokal dan luar daerah.

Baca juga:

Longsor Hancurkan Dua Rumah dan Timbun Seorang Nenek

Kopi jenis ini pun disebut merupakan jenis kopi tertua di Indonesia. Seperti diketahui, kopi dibawa Belanda ke Indonesia sekitar tahun 1662. Dan daerah Priangan menjadi daerah pertama atau project pilot pihak Belanda dalam upaya budidaya kopi di Nusantara. Maka muncullah istilah Prianger Stelsel (tanam paksa di wilayah Priangan). Salah satu daerah penanaman kopi di zaman Preanger Stelsel tersebut adalah wilayah Kampung Pelag sekarang.

Tapi jangan kaget dengan harganya. Karena rasanya yang kas ditambah mungkin ada nilai sejarah di dalamnya, Kopi varietas Kampung Pelag dengan nama keren Pelaggio ini harganya selangit, bisa menembus Rp 500 ribu per kg. Bahkan kopi Pelaggio dalam bentuk peaberry (kopi biji tunggal atau kopi lanang) dihargai hingga Rp 1,5 juta per kg.

Baca juga:

Coffee Talk Entrepreneurship Garut Gagas Trobosan Baru Bagi Milenials

Kepala Desa Sukalllah, Asep Haris, mengatakan, kopi java preanger di Kampung Pelag diklaim sebagai kopi jenis tertua yang pertama kali dibawa bangsa Belanda sejak 1662 silam.

Menurutnya, jumlah varietas kopi prianger masih di wilayah Priangan (preanger), ada 17 jenis. “Para petani di sini sudah mulai pada tahap packing dan memasarkan. Secara bertahap kita yakin produk kopi Pelaggio bisa diterima khalayak banyak, saat ini pun sudah cukup digandrungi oleh beberapa kalangan,” ungkapnya pada acara seminar di kampus Universitas Garut, Jum’at (4/5/2019)

Haris menyebutkan, jenis kopi java preanger yang ditanam di Kampung Pelag terbagi dalam tiga kategori yakni jagur (tinggi) semi KT (sedang) dan KT (pendek). Pohon kopi akan menghasilkan biji ketika sudah berusia 5 tahun lebih. Semakin tua pohon kopi akan semakin produktif.

“Sebelum tahu cara pengolahannya, kopi pelag dalam bentuk ceri (biji mentah dari pohon-Red) hanya dihargai Rp 7 ribu per kilogram, sekarang (setelah diolah menjadi bentuk green bean atau pemanggangan) bisa Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu, bahkan kalau sudah menjadi peaberry bisa menembus Rp 1,5 juta per kilogram,” tambahnya.

Ditambahkannya, kopi java preanger di Kampung Pelag memiliki tingkat susut yang rendah, dari 1 kg roast bean (kopi yang telah disangray), mampu menjadi 0,8 ons kopi siap seduh.

Haris menambahkan, para petani serta pemerintah desa menjalin kerja sama dengan Universitas Garut untuk menciptakan kualitas hasil tani serta konsep manajemen usaha yang baik.

“Oleh karena itu, seminar kopi Kampung Pelag ini digelar di Uniga,” katanya.

Sementara Rektor Uniga, Dr. H. Abdussy Syakur Amin, M.Eng, mengatakan, produk kopi Kampung Pelag sebenarnya bisa diselaraskan dengan potensi lain yang banyak terdapat di kampung tersebut. Di antaranya potensi alam yang bisa dikonversi menjadi daerah wisata.

“Sehingga nantinya desa maupun kampung di sana menjadi daerah wisata. Saat ini di sana ada padang Buffalo Hill, itu memiliki daerah sangat indah namun itu masuk kawasan cagar alam. Kalau itu bisa dijadikan destinasi wisata (dengan perubahan regulasi dari pihak berwenang, red) akan lebih menarik. Tidak hanya kopi, daerahnya pun saya kira bisa semakin diminati banyak pihak,” kata Syakur didampingi perwakilan dari PT. Indonesia Power UBP Kamojang Supervisor Senior & Humas Heri Hermawan di sela kegiatan.

Reporter : Jay
Editor: Mustika

Komentar

News Feed