GARUT|KABARNUSANTARA.ID – Kopi Indonesia memiliki beragam citarasa, baik dari jenis arabika maupun robusta. Proses pembuatan bubuk kopi pun bermacam cara, baik secara tradisional maupun modern.
Namun masih banyak pengrajin kopi yang mempertahankan cara tradisional. Mereka yakin, cara tersebut bisa menghasilkan dengan citarasa tersendiri dan cocok untuk pecinta kopi asli.

Salah satu daerah produsen kopi Arabica adalah Kampung Cihalimun, Desa Sukatani, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Nama kopi dari daerah ini cukup unik, yakni kopi limun, mungkin karena kampungnya bernama Cihalimun.

Baca juga:

Dua Barista Garut akan Demontrasi Seduh Kopi di Norwegia

Proses pengolahan kopi di derah ini masih dilakukan secara tradisional, sehingga kopinya menjadi khas. Ada rasa pahit, gurih dengan aroma wangi kopi asli. 

Karena punya citarasa tersendiri, kopi limun banyak diburu penggemar kopi.

Alhasil, bagi warga Cihalimun, kopi merupakan penghasilan utama. Kampung yang terletak di ketinggian Gunung Cikuray, memang menjadi salah satu lokasi penghasil kopi. 

Kopi di sini dipetik langsung dengan tangan, dan hanya biji yang sudah merah yang dipilih agar kualitas terjaga.

Penjemurannya dilakukan di bawah terik matahari dengan waktu sekitar 20-30 hari agar benar-benar kering. 

Setelah kering, lalu ditumbuk dengan lumpang batu dan penumbuk alu.

Penumbukan dilakukan untuk menghilangkan kulit luar atau cangkang. Setelah itu, biji kopi disangrai (diroaster) menggunakan tungku kayu bakar dengan wadah berupa wajan khusus. Roasting dilakukan sekitar satu jam atau hingga benar-benar matang. 

Setelah matang, kopi kemudian ditumbuk hingga halus dan disaring, kemudian di-packing untuk dijual ke pasaran. Selain dilempar ke pasar umum, banyak juga konsumen yang memesan langsung ke tempat produksi.

Asep Owi, petani kopi setempat menyebutkan bahwa kopi limun menjadi salah satu penghasilan utama warga.

Baca juga:

Gula Aren Kampung Dukuh Penjaga Stamina Calon Haji

“Daerah ini sangat cocok dengan tanaman kopi. Setiap rumah mempunyai tanaman kopi di kebunnya. Warga masih mempertahankan proses tradisional untuk membuat kopi agar citarasa tetap terjaga,” jelas Asep Owi, Kamis (18/7/2019).

Selain dijual dalam bentuk kopi siap saji, ada juga warga yang menjual dengan kondisi sudah dijemur dan ditumbuk bersih atau dalam bentuk green bean.

“Harga biji kopi yang belum diolah dari daerah ini berkisar Rp 18-20 ribu per kilogramnya. Namun kopi yang sudah siap seduh harganya Rp 30.000 per 100 gram-nya,” jelas Asep Owi.

Reporter MD: Sumarna
Editor: Mustika