TANGERANGSELATAN|KABARNUSANTARA.ID – Komunitas Santri, Pelajar dan Mahasiswa Muslim Papua (Kosapmaja) Tangerang Selatan (Tangsel), mengecam pernyataan rasis yang menyasar masyarakat Papua. “Kerusuhan di Manokwari dan Jayapura dipicu “insiden bendera merah putih” serta rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya pada Jumat (16/8/2019) lalu,” kata Fajar Cuan, Sekretaris Kosapmaja Tangsel, Senin (19/8/2019).

Baca Juga: 160 Personel Gabungan Amankan Rapat Pleno Penetapan Caleg Terpilih

“Umpatan dan kata-kata rasis itu yang memantik kericuhan di Manokwari dan Jayapura. Indonesia ini ‘kan sudah 74 tahun merdeka. Masih ada saja pandangan dan kata-kata rasis. Kami mengecam hal itu,” ujar Fajar di Sekretariat Kosapmaja, Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Informasi pemicu kericuhan di Manokwari dan Jayapura itu diperolehnya dari jaringan antar sesama mahasiswa Papua.

Pihaknya menuntut agar kepolisian segera melakukan penyelidikan untuk mencari oknum masyarakat yang melontarkan kata-kata rasis itu. “Kita ingin negara segera menyelidiki orang-orang yang melontarkan kata-kata rasistis pada mahasiswa Papua,” ujarnya.

Seperti diketahui, saat ini Papua tengah bergejolak, tepatnya di Manokwari, Papua Barat dan Jayapura, Papua. Sekretaris Kopasmaja Tangsel, Fajar Cuan, mengetahui info tentang awal mula kericuhan di Manokwari dan Jayapura itu dari jaringan antar sesama mahasiswa Papua.

Baca Juga: Geng Motor Berulah, Bacok Dua Warga di Bayongbong

Fajar mengatakan, kerusuhan di Manokwari dan Jayapura dipicu “insiden bendera merah putih” di Surabaya pada Jumat (16/8) lalu. Saat itu warga sekitar asrama mahasiswa Papua di Surabaya ingin memasang bendera merah putih di pagar asrama mahasiswa Papua.

Mahasiwa Papua menolak secara halus pemasangan bendera itu. Namun, pemasangan tetap dilakukan. Tanpa diketahui sebabnya, tiang bendera tersebut patah dan jatuh ke selokan. Tak pelak, mahasiswa Papua yang berada di asrama kemudian menjadi tertuduh.

Masyarakat, Ormas, Polisi dan TNI pun ramai di sekitar asrama. Mereka meminta mahasiswa keluar dari asrama. Pihak kepolisian dan TNI merangsek masuk menggunakan gas air mata, lalu mengangkut puluhan mahasiswa asal Papua itu ke Polda Jawa Timur. “Saat proses meminta keluar itulah, pernyataan dan umpatan rasis tersebut muncul,” kata Fajar.

Baca Juga: Kopi Limun Cikuray, Kopi Khas Garut Buruan Penikmat Kopi Asli

Hasil pemeriksaan polisi diketahui, tuduhan bahwa mahasiswa Papua melakukan pematahan tiang bendera dan membuangnya ke selokan, tidak terbukti. (*)

1 KOMENTAR