JAKARTA, KABARNUSANTARA.ID – Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan tegas tak akan main-main dengan lobi-lobi asing yang dapat ‘menghambat’ program hilirisasi industri khususnya kendaraan listrik di Indonesia.

Luhut menegaskan  ucapan Presiden Joko Widodo bahwa hilirisasi sebagai salah satu langkah dan kebijakan yang diambil oleh pemerintah untuk melakukan lompatan merebut momentum krisis pandemi Covid-19.

“Saya beserta K/L terkait hari ini berkoordinasi tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Di awal, saya tegaskan kepada teman-teman di jajaran K/L terkait untuk menyatukan pandangan bahwa kita tidak bisa main-main dengan lobi-lobi negara lain, hanya ada kepentingan nasional di balik pelaksanaan program ini,” ucap Luhut dalam pernyataannya dikutip dari akun media sosialnya, Kamis (27/8/20).

Luhut mengatakan haarusnya harmonisasi lintas kementerian untuk menunjang kesukseskan industri mobil listrik di Indonesia.

“Saya kira penyusunan peraturan seperti spesifikasi khusus, peta jalan, sampai penyediaan infrastruktur untuk pengisian daya kendaraan listrik, harus diharmonisasikan oleh lintas kementerian terkait,” ujar Luhut.

Luhut yakin Indonesia akan sukses memproduksi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) di dalam negeri, karena Indonesiaa punya modal awalnya yaitu Baterai Lithium yang menjadi komponen dasar energi kendaraan listrik. Baterai Lithium ini diperoleh dari hasil pengolahan bijih nikel lewat proses hilirisasi.

Lebih lanjut, Luhut mengatakan, perumusan regulasi terkait pengurangan bea masuk lebih penting. Dikarenakan untuk komponen mobil listrik yang sifatnya sementara agar harga mobil listrik dapat bersaing.

“Saya sepakat bahwa ekosistem industri ini juga bisa mendapatkan insentif, sehingga nantinya akan banyak menggerakkan roda perekonomian baru,” katanya.

Luhut menambahkan, perlunya dukungan konkret dari pemerintah untuk pengembangan awal kendaraan listrik. Dengan cara menjadikan kendaraan listrik sebagai kendaraan dinas operasional pada Kementerian/Lembaga/BUMN/D, dan dukungan materil lewat insentif fiskal berbasis TKDN.

“Karena semakin tinggi TKDN, semakin tinggi insentifnya sehingga tercipta peta jalan industri yang dapat memicu tumbuhnya industri komponen dalam negeri,” tambah LUhut.

Luhut mengatakan industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai bisa menjadi industri pionir untuk pasar dalam negeri yang potensial, bukan sekedar untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar kendaraan listrik hasil produksi luar negeri. Jika lompatan besar dari bijih nikel menjadi pusat mobil listrik dunia ini berhasil diciptakan.

“Sehingga kami mampu menujukkan kepada dunia internasional bahwa di masa krisis yang dialami seluruh negara di dunia, kami tidak meratapinya. Tetapi kami sedang mempersiapkan diri menjadi pemegang kunci industri kendaraan listrik dunia dengan mengolah hasil kekayaan alam kita sendiri secara mandiri,” katanya.