Makna dan Arti Perayaan Cap Go Meh Bagi Masyarakat Tionghoa

0
209

BUDAYA, KABARNUSANTARA.ID – Tahun Baru Imlek kurang meriah kalau tidak ada Cap Go Meh. Kebanyakan orang cuma tahu Cap Go Meh adalah perayaan yang dilakukan orang Tionghoa dua minggu setelah Tahun Baru Imlek.

Biasanya pada tradisi ini ada arak-arakan barongsai dan makan lontong Cap Go Meh dalam acara ini. Seperti yang terlihat di Kabupaten Garut, Minggu (09/02/2020).

Ribuan masyarakat berkumpul menyaksikan arak-arakan barongsai di Vihara Srivijaya Dhama di jalan Guntur, Ciwalen, Kabupaten Garut. Usai arak-arakan, masyarakat Tionghoa juga nampak menikmati lontong Cap Go Meh.

Lalu sebenarnya bagaimana sih makna Cap Go Meh sendiri?

Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang bila diartikan secara harafiah bermakna “15 hari atau malam setelah Imlek”. Bila dipenggal per kata, ‘Cap’ mempunyai arti sepuluh, ‘Go’ adalah lima, dan ‘Meh’ berarti malam.

Upacara perayaan ini dirayakan secara rutin setiap tahunnya pada tanggal 15 bulan pertama menurut sistem penanggalan kalender Imlek.

Perayaan Cap Go Meh atau Perayaan Lampion ini tidak hanya dirayakan di Indonesia saja. Beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura juga ikut merayakan hari raya ini.

Di negara Tiongkok, festival Cap Go Meh dikenal dengan nama Festival Yuanxiao atau Festival Shangyuan.

Perayaan ini awalnya dirayakan sebagai hari penghormatan kepada Dewa Thai Yi. Dewa Thai Yi sendiri dianggap sebagai Dewa tertinggi di langit oleh Dinasti Han (206 SM – 221 M).

Dulunya, Cap Go Meh dilakukan secara tertutup untuk kalangan istana dan belum dikenal masyarakat awam.

 Festival tersebut dilakukan pada malam hari, sehingga harus menyediakan banyak lampion dan aneka lampu warna-warni. Lampion adalah pertanda kesejahteraan hidup bagi seluruh anggota keluarga.

Ketika pemerintahan Dinasti Han berakhir, barulah Cap Go Meh dikenal oleh masyarakat. Ketika Cap Go Meh, rakyat bisa bersenang-senang sambil menikmati pemandangan lampion yang telah diberi banyak hiasan.

Apa bedanya Cap Go Meh dan Imlek?

Ketua Badan Pengurus Perkumpulan Keagamaan dan Sosial Boen Tek Bio Tangerang Tan Lie mengatakan kalau Imlek biasanya dirayakan dengan sembahyang ke kelenteng untuk memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru.

Setelah itu, berkumpul dan makan bersama keluarga.

Sedangkan, ketika Cap Go Meh, orang-orang membawa persembahan berupa kue keranjang dan melakukan sembahyang untuk mengucap syukur dan memohon keselamatan.

Orang zaman dulu percaya kalau anak kecil tidak makan kue keranjang, matanya bakal belekan. Makanya, hingga saat ini masih banyak orang yang membawa persembahan kue keranjang ketika Cap Go Meh.

Setelah itu, pastinya ada acara makan kue keranjang yang bisa dimakan langsung atau digoreng. Kue keranjang juga boleh dibagi-bagikan secara gratis untuk warga sekitar.

Sementara Perayaan Festival Cap Go Meh di Indonesia sendiri sangat bervariasi.

Perayaan biasanya dilakukan oleh umat di Kelenteng atau Wihara dengan melakukan kirab atau turun ke jalan raya sambil menggotong ramai-ramai Kio/Usungan yang di dalamnya diletakkan arca para Dewa.

Bahkan di beberapa kota di tanah air seperti di daerah Jakarta dan di Manado, terdapat atraksi ‘lokthung‘ atau ‘thangsin‘ di mana ada seseorang yang menjadi medium perantara yang konon setelah dibacakan mantra tertentu dipercaya telah dirasuki oleh roh Dewa untuk memberikan berkat bagi umat-Nya.

Mereka biasanya akan melakukan beberapa atraksi sayat lidah, memotong lengan atau menusuk bagian badannya dengan sabetan pedang, golok, dan lain sebagainya.

Ketika Cap Go Meh, rakyat akan menyaksikan Tarian Barongsai dan Liong (naga), berkumpul untuk main games penuh teka-teki, dan makan onde-onde. Sepanjang perayaan, tentunya bakal diramaikan oleh kehadiran kembang api dan petasan.

Barongsai adalah simbol kebahagiaan, kegembiraan, dan kesejahteraan. Sedangkan Liong dianggap sebagai simbol kekuasaan atau kekuatan. Menurut kepercayaan orang Tionghoa, keluarga akan jadi sangat besar jika anak mereka lahir di Tahun Naga.

Onde-onde yang dimakan ketika Cap Go Meh biasanya dibuat ramai-ramai oleh seluruh anggota keluarga, terutama wanita dan anak-anak. Lalu, Tarian Barongsai dan Liong harus sambil membunyikan petasan.

Pasalnya, petasan dipercaya bisa mengusir energi negatif dan akan membersihkan seluruh lokasi yang dilalui Barongsai. Secara umum, itulah yang dilakukan orang Tionghoa ketika merayakan Cap Go Meh. (*)

Penulis : Ade Indra