Memasuki Era Transformasi Digital SDM Menjadi Ujung Tombak

0
77

JAKARTA, KABARNUSANTARA.ID – Memasuki masa transisi pandemi covid 19 ke era normal baru, Asosiasi Praktisi Human Resources Indonesia menilai bahwa peran sumber daya manusia menjadi ujung tombak pusat kegiatan perusahaan dalam masa transformasi digital.

Yosminaldi Nur Chairman Asosiasi Praktisi Human Resources Indonesia (Asphri) mengutip dari laporan Deloitte pada 2019 menyebut bahwa ke depan perusahaan secara umum akan menginvestasikan 25 persen biaya perusahaan dalam pengembangan SDM melalui teknologi.

“Mungkin mahal, tetapi ke depan ini akan mengefisiensi dan mendukung kinerja perusahaan dari sisi SDM. Transformasi digital pada SDM dapat memicu motivasi dan peningkatan kinerja sehingga keuntungan bukan hanya diperoleh antarpersonalia-karyawan, melainkan juga organisasi secara keseluruhan,” ujarnya dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Bisnis, bertajuk Redefining Human Resources in Challenging Time, Jumat (24/7/2020).

Selain itu ia mengungkapkan terdapat tiga dampak positif dengan adanya transformasi digital pada departemen pengembangan SDM, pertama, adalah menghasilkan otomasi proses tata kelola yang dapat mengurangi biaya sebesar 35 persen dari aset perusahaan dan juga mempercepat waktu pekerjaan yang repetitive.

Kedua, transformasi digital dapat meningkatkan pengalaman karyawan dalam bekerja, salah satunya adalah dalam konteks pengajuan cuti dan jam kerja yang lebih mudah dan terkomputasi pengelolaannya.

Kemudian, yang terakhir (ketiga) perusahaan dapat lebih berfokus pada bagian-bagian level bawah seperti penjualan dan pelayanan. “Pada situasi ini [transformasi digital] mengubah SDM menjadi sektor terkemuka dalam antisipasi situasi darurat, peran praktisi HR [human resources] sangat penting karena [mereka adalah] pusat kegiatan perusahaan,” jelasnya.

Namun dalam hal ini, Yosminaldi mewanti-wanti bahwa terdapat empat poin tantangan praktisi SDM. Pertama, tantangan dunia usaha dan dunia industri (dudi) pada era pandemi Covid-19;

Kedua, adalah revolusi pola kerja dari sistem kerja tradisional ke sistem kerja dari rumah. Ketiga, adalah adaptasi, adopsi, dan digitalisasi data dan model pengarsipan (filling) di bagian human resouces department (HRD).

Keempat, percepatan transformasi digitalisasi dan fleksibilitas pengelolaan HRD. “Secara umum industri adalah salah satu penyumbang terbesar dari produk domestik bruto Indonesia pada 2019. Kontribusi yang diberikan mencapai 19,62 persen. Mereka [pengusaha] masih bertahan pada 3 bulan awal hingga sampai ke 5 bulan, mereka mulai bertahan dengan merumahkan hingga PHK,” kata Yosminaldi.

Selsin itu dia mengatakan bahwa pemutusan hubungan kerja memang merupakan langkah terakhir dan yang paling dihindari untuk ditempuh perusahaan, tetapi dampak pandemi Covid-19 membuat banyak perusahaan yang tidak dapat untuk memiliki pilihan lainnya.

“Ini suatu hal yang tidak terencana, banyak perusahaan yang masih gagap menghadapi [pandemi Covid-19] ini,” ujarnya.

Director HCM Strategy and Business Development Oracle Johannes Eckold pun mengatakan bahwa perusahaan dapat bertahan pada era pandemi Covid-19 dengan menerapkan transformasi digital dan mempersiapkan diri untuk pola tempat kerja di masa depan.

“Pola itu terdiri atas ketahanan digital, ekosistem intelijen, nilai-nilai yang didorong bisnis, empati, dan kepedulian,” tuturnya.

Dia menjelaskan bahwa untuk ketahanan digital adalah berfokus pada cara perusahaan untuk mendukung karyawan di tempat kerjanya.

“Perusahaan perlu untuk memberi tempat yang aman dan menjaga kesehatan mereka, merencanakan ulang tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan bisnis, mengatasi kebutuhan dan tanggapan karyawan secara efektif, dan memungkinkan staf untuk berkolaborasi secara efektif,” ujar Eckold.

Reporter : Mimbar
Sumber ” bisnis.com