Mengenang Perjuangan Rakyat Garut Lewat Boboyongan

0
157

GARUT, KABARNUSANTARA.ID – Garut merupakan kota yang memiliki ragam budaya unik,  Salah satunya tradisi Boboyongan atau Surak Ibra.

Boboyongan atau Surak ibra adalah seni tradisional berasal dari Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja  Kabupaten Garut, seni tradisional ini diciptakan pada tahun 1901 oleh Rd. Jaya diwangsa putra dari Raden Wangsa Muhammad atau pangeran Papak.

Semasa hidup Raden Wangsa Muhammad banyak didatangi orang yang berkecimpung dalam dunia seni (seniman), para pelajar, dan orang-orang yang bergerak dalam bidang usaha lain untuk belajar ilmu budi pekerti yang dimilikinya.

Menurut Cahridin salah satu tokoh masyarakat desa Cinunuk, tradisi Boyongan atau Surak Ibra memiliki arti sebagai sindiran atau protes kepada pemerintahan Belanda pada zaman dahulu yang selalu bertindak sewenang – wenang kepada warga pribumi dan keinginan masyarakat untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan antara pemerintah dan masyarakat.

Kesenian ini dahulu menampilkan salah satu seorang pendekar silat yang memiliki kharisma di Garut bernama Ibra sebagai tanda penghormatan.

“Selama perkembangannya kesenian seperti ini tidak ada didaerah lain, maka dari itu kesenian ini dimasukan kedalam kategori seni pertunjukan rakyat khas Garut,” katanya kepada Kabarnusantara.id, Minggu (16/2/2020).

Selain itu kesenian ini paa zaman dahulu Kesenian Surak Ibra digelar saat para dalem (bupati) Garut mengadakan hajatan atau upacara hari-hari besar dan dikenal sebagai “Pesta Raja”.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil saat diangkat oleh pemain atraksi boboyongan di desa Wisata Cinunuk beberapa waktu lalu

Terutama di daerah cinunuk, Garut, dimana semua warga berbondong – bondong berziarah ke makam cinunuk, untuk meningkatkan solidaritas dan menggalang persatuan antar warga.

Pertunjukan Surak Ibra di Dominasi oleh sejumlah laki – laki. Dimulai dengan beberapa pemuda yang berbaris dengan formasi berbanjar sambil membawa obor menyala melakukan gerakan- gerakan silat.

Setelah itu disusul oleh rombongan penari Surak Ibra sekitar 30 – 60 orang dengan mengenakan kostum Pesilat yang bergerak dengan penuh semangat sambil memperagakan gerakan silat.

Dari keseluruhan peserta terdapat seorang yang mengatur atau memberi komando, dengan instruksinya ini semua penari hingga musik pengiring semuanya serempak dalam satu irama.

Disambung dengan teriakan sorak sorai yang begitu meriah, dan ketika mereka melakukan formasi lingkaran, salah satu dari mereka yang bertindak sebagai tokoh yang akan di angkat (boyong).

Lingkaran yang semakin sempit membuat tokoh tadi pasrah diangkat naik turun oleh penari Surak Ibra sambil di iringi musik dan sorak sorai yang semakin meriah.

Setelah selesai mereka akan kembali ke formasi semula dan disebut dengan Helaran sambil di iringi dengan musik yang semakin bertabuh.

Secara umum musik pengiring surak ibra hampir sama dengan iringan musik Kendang Pencak, hanya saja didalam kesenian ini ada tambahan alat musik tradisional lainnya seperti angklung dan dogdog yang berfungsi sebagai pelengkap.

Lagu – lagu yang biasa dibawakan dalam kesenian ini seperti Golempang, Padungdung, dan lainnya.

Didalam pertunjukan Surak Ibra, lanjutnya, terdapat beberapa makna yang terkandung, diantaranya :

1. Makna Syukuran: masyarakat sebagai komunitas biasanya memiliki cara syukuran berdasarkan caranya yang diwariskan perintisnya.

Sebagaimana halnya Surak Ibra, yang bertolak dari rasa penghormatan kepada karisma Bapak Ibra sebagai pendekar Silat yang disegani di Garut pada saat itu.

2. Makna teatrikal: tampilan Surak Ibra dengan jumlah pendukungnya lebih dari 60 orang, menunjukan peluang teatrikal, apalagi ketika adegan boboyongan naik turun dibarengi dengan sorak sorai serempak.

Melalui media ini, Pangeran Papak menyebarkan syiar Islam kepada masyarakat luas. Namun belakangan ini, atraksi ini juga menarik mata masyarakat Indonesia.

Boboyongan pun mendapat juara 2 seni nasional terbaik pada tahun 2010. Sehingga pada tahun 2016, Boboyongan sempat ditampilkan pada acara Peringatan HUT Republik Indonesia (RI) di istana Negara, Jakarta. (*)

Penulis : Ade Indra

Editor : Slamet Timur