GARUT, KABARNUSANTARA.ID.- Anggota DPR RI Nurhayati Monoarfa menyatakan, masih banyak siswa yang tinggal di pelosok desa yang kesulitan untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar secara virtual. Karenanya perlu perhatian  pemerintah agar siswa di desa pun bisa mendapatkan hak yang sama di tengah wabah COVID-19.

“Kita minta pemeritah untuk bisa membantu bagaimana masyarakat desa ini bisa ikut sekolah secara virtual,” kata Anggota Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPP) DPR RI di Garut.

Ia meuturkan, wabah COVID-19 menyebabkan kegiatan belajar mengajar tidak dilakukan secara tatap muka melainkan harus secara daring atau virtual menggunakan alat telepon seluler android yang terkoneksi dengan internet.

“Ada juga orang tua mengeluh bahwa terlalu mahal untuk beli kuota, atau ada yang hanya punya satu HP, tapi anak ada tiga dan harus dipakai bergantian,” kata perempuan dari Daerah Pemilihan XI Jawa Barat, Kabupaten/Kota Garut dan Tasikmalaya itu.

Menurut dia, ada solusi yang bisa diterapkan oleh pemerintah yaitu meyediakan kuota internet bagi masyarakat, atau menyediakan tempat seperti kantor desa agar siswa bisa mengakses internet.

“Saya juga meminta kepada staf Ridwan Kamil Gubernur Jawa Barat bagaimana pemprov membantu di desa disediakannya kuota dan mereka bisa bersekolah bersama, mungkin di kantor desa atau tempat lain, sehingga tidak memberatkan orang tua,” katanya.

Nurhayati yang juga Wakil Ketua Komisi V, DPR-RI, mengungkapkan, saat ini pemerintah belum dapat menerapkan sekolah secara tatap muka karena wabah COVID-19 masih mengancam kesehatan masyarakat yang khawatir terjadi peningkatan kasus dari lingkungan sekolah.

“Sebetulnya dengan virtual kan sama saja anak-anak bisa sekolah, dampaknya mungkin pada anak-anak kurang mampu, itulah yang sedikit berat,” ucapnya, usai acara sosialisasi empat pilar kebangsaan di Pesantren AlFatih, Kp. Haurseah, Kecamatan Banyuresmi, Garut, Jawa Barat (27/06/2020).

Jika pemerintah membuka kembali sekolah, kata dia, tentunya sekolah harus menyiapkan fasilitas yang sesuai dengan protokol kesehatan yakni siswa maupun guru wajib pakai masker, menyediakan tempat cuci tangan, dan alat pengukur suhu.

“Dalam penanganan COVID-19 ini sekolah sendiri harus menyiapkan semua fasilitas dari mulai cuci tangan, thermo gun, lalu kerja sama degan puskesmas,” katanya, saat mensosialisasikan empat pilar kebangsaan di Pesantren AlFatih, Kp. Haurseah, Kecamatan Banyuresmi, Garut, (27/06/2020).

Untuk Garut sendiri, lanjut Dia, sebetulnya sudah memungkinkan untuk belajar tatap muka, hanya saja harus menerapkan protokolerkesehatan dengan benar.” Untuk zona hijau sudah boleh, tapi peelu diperhatikan protokoler kesehatannya, dengan berkoordinasi dengan gugus tugas,” ujarnya.

Mengenai sosialisasi empat pilar kebangsaan yang Ia sosialisasikan kepada kalanga pelajar, menurutnya, sangat penting. Mengingat pengaruh globalisasi yang perlu diantisipasi.

” Kami menginginkan para siswa, mengenal, memahami, dan mengamalkan empat pilar ini, agar kedepan mereka bisa betul betul mengerti dan memahami kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya. (*).

Reporter: Slamet Timur
Redatur: Evan SR