JAKARTA, KABARNUSANTARA.ID – Isu tudingan yang menyebut pihak Bank Indonesia (BI) bisa untung hingga Rp 5,6 triliun jika 75 juta lembar uang khusus kemerdekaan pecahan Rp 75 ribu laku semua. Tudingan itu ramai di grup percakapan WhatsApp, yang menyebut per lembar bisa untung Rp 74.750 karena modal kertas, tinta, dan ongkos cetak senilai Rp 250 per lembar.

Kepala Grup Kebijakan Pengelolaan Uang BI, Eva Aderia mengatakan tudingan itu hanya menghitung berdasarkan jumlah nominal dengan jumlah produksi. Sedangkan di dalam proses pencetakan uang butuh biaya produksi yang harus dikeluarkan.

“Kalau dihitung Rp 5,6 triliun itu diperoleh dari pengali antara 75 juta dengan Rp 75 ribu. Kita kan kalau membuat sesuatu pasti ada harga produksi yang dikeluarkan. Jadi memang nggak mungkin BI untung sebesar itu,” ucap Eva kepada detikcom, Rabu (19/8/20).

Namun, Eva tidak bisa membeberkan berapa biaya produksi yang dikeluarkan dari mencetak 75 juta lembar uang khusus tersebut. Yang jelas, Eva menegaskan pihak BI tidak mencatat selisih biaya produksi dengan nilai nominal.

“Perlu kami sampaikan bahwa kalau kita lihat sekarang peluncuran UPK (uang peringatan kemerdekaan) ini nominal dengan harga penukaran itu sama Rp 75 ribu juga. Pada dasarnya BI tidak mencatat selisih antara biaya produksi dengan nilai nominal sebagai peruntungan BI,” ungkapnya.

Terlebih uang khusus Rp 75 ribu itu dapat digunakan sebagai nilai transaksi. Sehingga masyarakat yang menukarkan uang tersebut dapat menggunakannya untuk belanja.

“Jadi per tanggal 17 Agustus sudah dinyatakan sebagai legal tender. Jadi dapat ditransaksikan,” tegasnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah mengatakan siapapun yang mendapat kewenangan untuk mencetak uang memang dapat keuntungan.

“Namanya pencetakan uang ya pasti untung. Siapa saja yang punya hak dan kewenangan mencetak uang sudah pasti untung. Ongkos cetak per lembar uang Itu sudah pasti di bawah Rp 75 ribu, itu artinya BI untung,” ujar Piter kepada detikcom, Rabu (19/8/20).

Meski begitu, Piter mengungkap tujuan utama BI meluncurkan uang khusus bukan untuk mencari keuntungan melainkan untuk merayakan 75 tahun kemerdekaan Indonesia. Terlihat juga dari pengeluaran BI yang terbesar justru untuk percetakan guna mewujudkan uang layak edar atau clean money policy.

“Tapi tujuan BI mencetak uang bukan keuntungan (tetapi) untuk merayakan 75 tahun kemerdekaan Indonesia. Itu sudah beberapa kali dilakukan oleh BI. Bahkan dalam kenyataannya, pos pengeluaran terbesar kedua BI justru biaya percetakan uang guna melaksanakan clean money policy,” jelasnya.