BANDUNG, KABARNUSANTARA.ID – Rektor Universitas Islam Bandung (UNISBA) kembali bersuara terkait insiden penembakan gas air mata ke area dalam kampus. peristiwa ini mengakibatkan kerusakan terhadap fasilitas keamanan Unisba.

Dalam insiden itu, polisi disebut melakukan pemukulan terhadap sekuriti Unisba. Menurut Rektor Unisba, Edi Setiadi, aparat penegak hukum terlalu berlebihan dalam menangani peserta unjuk rasa. Apalagi sampai menyebabkan fasilitas kampus rusak.

“Sungguh suatu perbuatan yang tidak patut dilakukan oleh aparat penegak hukum dalam rangka menjalankan fungsinya karena fasilitas kampus tidak ada kaitannya dengan objek dari pelaksanaan tindakan polisi tersebut,” kata dia dalam keterangan tertulis, Minggu (11/10).

Edi menjelaskan, penegak hukum seyogyanya memperhatikan code of conduct for law enforcement. Juga basic principle on the use of force and firearm by law enforcement official serta KUHAP.

Karena itu, Edi berpendapat perusakan fasilitas kampus serta pemukulan terhadap anggota keamanan kampus tidaklah dibenarkan. “Karena polisi tidak dalam keadaan bahaya jiwanya,” ucap dia.

Meski kasus ini telah diselesaikan oleh Yayasan Unisba, Edi meminta hal ini menjadi perhatian pimpinan Polri agar tindakan tersebut jangan menjadi kebiasaan dan dianggap sebagai hal biasa.

“Karena tidak sesuai dengan fungsi dan tugas kepolisian yang bersifat mengayomi dan melindungi masyarakat,” ucap dia.

Sebelumnya, Rektor Universitas Islam Bandung (Unisba) membuat pengaduan atas tindakan oknum aparat kepolisian yang menembakkan gas air mata ke dalam kampus. Pengaduan dibuat secara tertulis dan ditujukan kepada Kapolda Jawa Barat.

Dalam surat bernomor 595/K.08/REK-K/X/2020 dijelaskan, rombongan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang sudah melakukan aksi penolakan terhadap UU Omnibus Law di depan gedung DPRD Provinsi Jawa Barat bergerak ke Unisba. Mereka memaksa masuk ke Unisba karena menghindari tembakan gas air mata dari polisi.

sumber lain : merdeka.com