KABARNUSANTARA.ID – Nilai tukar atau kurs Rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Selasa (9/1) diperkirakan akan kembali melanjutkan tren pelemahannya. Meski begitu, pelemahan rupiah dinilai akan cenderung terbatas.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra, mengungkapkan bahwa penyebab melemahnya Rupiah lebih diakibatkan oleh sentimen dari eksternal. Di mana pagi terlihat tingkat imbal hasil obiligasi AS tenor 10 tahun masih menaik.

Bahkan, perdagangan kemarin, yield tersebut kembali mencetak level tertinggi baru di 2021 di kisaran 1,15 persen, sementara hari sebelumnya ditutup di kisaran 1,12 persen.

“Kenaikan imbal hasil obligasi ini masih bisa menjadi pemicu pelemahan nilai tukar lainnya terhadap dollar AS termasuk rupiah hari ini,” ujar dia saat dihubungi Merdeka.com.

Sehingga, Ariston meyakini Rupiah akan diperdagangkan di rentang Rp 14.050 – Rp 14.200 per dolar USD pada perdagangan hari ini.

Adapun, faktor penahan pelemahan mata uang garuda ialah tak lepas dari lebih kabar baik persetujuan BPOM terhadap penggunaan vaksin sinovac di tanah air. Sehingga proses vaksinasi bisa terlaksana sesuai jadwal yang ditetapkan pada Rabu esok (13/1) yang dilansir dari merdeka.com.

“Dengan persetujuan ini, vaksinasi bisa segera dimulai dan pada akhirnya bisa membantu mengendalikan pandemi. Ini bisa menahan pelemahan rupiah,” tukasnya.