JAKARTA|KABARNUSANTARA.ID – Ratusan aktivis lingkungan kelompok ‘Extinction Rebellion’ ditangkap oleh kepolisian saat melakukan aksi protes di Sydney, Australia, sedikitnya ada sekitar 30 orang melakukan pelanggaran hukum setelah ratusan orang kainnya memblokir jalan.

Bahkan lebih dari 100 orang juga ditangkap di wilayah Amsterdam, aksi protes dengan alasan yang sama juga berlangsung saat ini di beberapa negara lainnya termasuk AS, Inggris, Jerman, Spanyol, Austria, Prancis dan Selandia Baru.

Unjuk rasa yang dilakukan oleh aktivis lingkungan ini, diperkirakan akan berlangsung di 60 kota lainnya dalam jangka waktu dua minggu ke depan, dikutip dari BBC, Rabu (9/10/19).

Selain itu kelompok tersebut juga sempat menimbulkan kekacauan di London, di mana 270 orang juga ditangkap pada Senin, 7 Oktober 2019. Extinction Rebellion menginginkan pemerintah untuk segera melakukan tindakan besar dalam menangani masalah perubahan iklim.

“Kami sudah melakukan berbagai cara seperti petisi, arak-arakkan dan sekarang waktunya untuk menunjukkan diri,” ungkap Jane Morton, seorang aktivis.

“Kami tidak punya pilihan lain selain memberontak sampai pemerintah melakukan tindakan terhadap masalah iklim untuk menyelamatkan kami,” tambahnya.

Mereka menilai pemerintah Australia dinilai kurang cekatan dalam menangani masalah perubahan iklim namun mereka tetap bersikeras bahwa mereka sedang berusaha mengurangi emisi karbon global.

Menanggapi aksi tersebut Menteri Dalam Negeri Australia, Peter Dutton minggu lalu mengatakan bahwa nama dan foto-foto peserta demo dari Extinction Rebellion seharusnya dipublikasikan untuk membuat mereka malu.

Namun ternyata, aksi yang dilakukan oleh kelompok pemerhati lingkungan tersebut tak hanya terjadi di Australia namun juga di beberapa kota besar lainnya di dunia.

Seperti di Sydney, para demonstran duduk memenuhi jalanan. Ratusan diantaranya ditangkap dan 30 orang dikenai hukuman. Tak hanya di Sydney, aksi demo juga dilakukan di Melbourne dan Brisbane.

bahkan tak sedikit aktivis lingkungan yang mengalami hal serupa berupa penangkapan seperti terjadi di Selandia Baru, di mana para aktivis memenuhi area gedung pemerintahan di Wellington sambil menuntut pemerintah yang mengizinkan pengeboran minyak dan gas.

Selain itu, lebih dari 100 demonstran Amsterdam ditangkap karena mendirikan tenda di jalan utama tepat di luar museum nasional, Rijksuseum.

Beda halnya dengan protestan di New York juga ditangkap karena mereka menumpahkan darah buatan di dinding sebagai simbol kematian. Ditambah lagi, simbol kematian juga dibuat oleh aktivis asal India, tepatnya di Mumbai yang melibatkan 250 orang.

Nasib yang sama di alami aktivis di Berlin yang juga ditangkap karena memblokir jalan disana, demonstrasi besar juga terjadi di Paris karena melibatkan seribu aktivis yang memblokir sebuah pusat perbelanjaan.

Aksi pemblokiran jalan juga dilakukan oleh para demonstran di Vienna, tepatnya area Museumsquartier, beberapa kota lainnya juga mengalami hal serupa seperti London dan New Delhi.

Extinction Rebellion atau biasa disebut sebagai XR, menginginkan agar pemerintah menyatakan kondisi darurat atas perubahan iklim yang terjadi dan harus segera mengambil tindakan dalam menangani masalah lingkungan.

Organisasi tersebut bergerak sebagai aktivis tanpa kekerasan yang mengkritik aksi pemerintah terutama dalam isu lingkungan.

Extinction Rebellion pertama kali dibentuk di Inggris pada 2018 dan siap melakukan aksi di banyak negara. Kelompok tersebut menggunakan simbol sebuah jam pasir di dalam lingkaran yang berarti waktu yang segera habis bagi banyak spesies.

Sumber : Berbagai Referensi