GARUT|KABARNUSANTARA.ID – Kampanye bagi kontestan Pemilu 2019, menjadi sebuah upaya memuluskan langkah menuju kemenangan yang buahnya adalah kursi di Dewan Perwakilan Rakyat bagi kontestan calon legislatif, dan kursi presiden dan wakil bagi kontestan calon presiden dan wakil presiden.

Namun, sejatinya kampanye dalam ajang kontestasi Pemilu adalah sebuah alat pendidikan politik bagi masyarakat. Hal ini, disampaikan oleh Rofiq Azhar, salah satu calon anggota legislatif dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) untuk DPRD Garut dari Daerah Pemilihan (Dapil) III yang meliputi wilayah Kecamatan Pasirwangi, Samarang, Tarogong Kaler, Tarogong Kidul dan Kecamatan Banyuresmi.

Rofiq yang juga dosen pengajar di beberapa perguruan tinggi di Garut melihat proses pendidikan politik ini harus dilakukan para calon legislatif (Caleg) dengan memberikan pemahaman mengapa momentum Pemilu bisa menjadi momen perubahan bagi masyarakat.

“Masyarakat harus tahu pentingnya Pemilu, mengapa Pemilu bisa merubah arah jalan hidup bangsa dan negara,” jelas Rofiq.

Karenanya, menurut Rofiq, tiap kali turun kampanye dirinya selalu memberikan pemahaman kepada masyarakat soal pentingnya Pemilu. Jadi, masyarakat tidak hanya sekedar diajak mendukung dan memilih dirinya dalam Pileg. Namun, mereka juga harus faham mengapa harus memilih seorang anggota legislatif yang akan mewakili masyarakat.

Baca juga :

Siswa MTs Darul Arqam Cisompet Tenggelam Saat Renang, Usai Ikut UN

Terkait Soal USBN, NU: Minta Maaf Saja Tidak Cukup

Rofiq menyampaikan, masyarakat harus merubah pemikiran mereka soal politik transaksional yang saat ini sudah membudaya. Dengan politik transaksional yang membudaya saat ini, banyak caleg yang begitu menjadi anggota DPRD bisa begitu saja meninggalkan konstituennya karena merasa telah membeli suara masyarakat.

“Jadi kalau ada istilah masyarakat ditinggalkan oleh Caleg setelah jadi anggota dewan, paradigmanya harus dirubah, anggota dewannya yang harus ditinggalkan konstituennya,” katanya.

Soal politik transaksional, menurut Rofiq, menjadi sesuatu yang sangat penting untuk disikapi bersama, dalam upaya membangun budaya politik millenial menuju Garut bertaqwa, maju dan sejahtera sebagaimana visi pemerintah daerah saat ini.

Dengan pendidikan politik, lanjutnya, masyarakat bisa tercerdaskan hingga bisa memilih mana calon legislatif yang terbaik untuk mereka dan mau berkomitmen bersama-sama membangun masyarakat demi kesejahteraan bersama. Masyarakat yang cerdas, menurutnya, juga bisa terhindar dari pragmatisme politik.

“Kalau masyarakat cerdas dalam berpolitik, pastinya tidak akan mau menukar pilihannya dengan uang dari caleg, mereka akan mencari caleg yang mau bekerja bersama rakyat demi kesejahteraan rakyat,” katanya.

Rofiq yang tumbuh besar di lingkungan pondok pesantren melihat, proses pendidikan politik yang baik bisa mencerdaskan masyarakat dalam berpolitik. Cerdas berpolitik, diartikan masyarakat cerdas memilih pemimpin yang benar-benar bisa diajak bekerja membangun masyarakat. Jika ini sudah tercapai, harapan kesejahteraan bersama pun dengan mudah diwujudkan.

“Bicara soal kesejahteraan masyarakat mudah diwujudkan jika masyarakatnya cerdas dalam berpolitik yang artinya cerdas dalam memilih pemimpin dan mampu menjadi sosial kontrol yang kuat bagi pemimpin,” tegasnya.

Sebagai salah satu caleg yang menjadi peserta Pemilu 2019, konsep kampanye yang dilakukannya pun dimulai dari pendidikan politik bagi masyarakat, karena jika masyarakat cerdas dalam berpolitik, isu kesejahteraan bersama menjadi sebuah hal yang tidak terlalu sulit untuk diwujudkan bersama.

“Bagi saya, kesejahteraan bersama menjadi tujuan antara demi terciptanya kebahagiaan masyarakat yang menjadi tujuan utama menjadi seorang anggota legislatif,” tegasnya.

Bisa membahagiakan masyarakat, menurut Rofiq tentunya perlu sebuah perjuangan besar. Dengan maju menjadi caleg, Rofiq berharap dirinya bisa membahagiakan masyarakat banyak, lewat proses pendidikan politik yang mencerdaskan masyarakat hingga terciptanya kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat. (*)

Reporter : AMK
Editor : AMK