Sejarah dan Fakta Pacuan Kuda di Tanah Priangan

0
223

OLAHRAGA,KABARNUSANTARA.ID – Berkuda menjadi salah satu olahraga yang sangat digemari Rasulullah SAW. Bahkan umat muslim dianjurkan untuk bias berkuda.

Maka tak heran, kini olahraga berkuda, khususnya pacuan kuda kian digemari. Seperti di Jawa Barat.

Dilansir Ayobandung.com, pacuan kuda memiliki sejarah yang panjang di Jawa Barat. Kegiatannya mulai digelar di Bandung selama dua hari pada 13-14 Mei 1853, tak lama setelah dibentuk klub kuda pacu pertama di Priangan, yakni Preanger Wedloop Societeit.

Setelah itu, klub kuda pacu dibuat di Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Garut berikut perlombaannya.

Seiring perkembangan zaman, minat terhadap pacuan kuda pun menyusut. ‘We zijn er bijna,’ zei Bergamin, ‘maar eerst wil ik u nog wijzen op de trots van Bandoeng: de paardenrenbaan van Tegallega, waar de eerbiedwaardige Preanger Wedloop Societeit haar wedstrijden organiseert.’ Nadat we de renbaan met haar imposante tribune waren gepasseerd, kwamen we bij een hagelwit hoefijzervormig gebouw met rode dakpannen en veel ramen. Itu kata-kata tokoh Bergamin kepada Nyoman Darma dalam roman karya Reggie Baay, Gebleekte Ziel (2012).

Novel berbahasa Belanda ini menceritakan kisah bangsawan Bali, Nyoman Darma, antara 1879-1909, yang mengalami pembaratan (Gebleekte). Mula-mula ia besar di Padang, karena ayahnya dibuang ke sana.

Kemudian disekolahkan ke Amsterdam, tinggal di rumah keluarga Ekker, dan beralih agama menjadi Christiaan Darma. Pada 1884, ia kembali ke Hindia Belanda untuk memulai kerja sebagai asisten guru di OSVIA (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren) atau sekolah untuk calon pegawai pribumi, di Bandung.

Sebelum tiba ke sekolah, Bergamin menerangkan ihwal kemajuan di Bandung. Termasuk pembangunan rel kereta api yang menyambungkan Batavia dengan Bandung dan perhelatan tahunan yang diselenggarakan oleh Preanger Wedloop Societeit (Klub Pacuan Priangan).

Lokasi OSVIA juga berada di Tegallega, sehingga melewati lapangan pacuan kuda. Sehingga dalam kutipan disebutkan, ”Kita hampir sampai,” kata Bergamin,

”Tapi saya ingin menunjukkan kebanggaan Bandung: Pacuan Tegallega, tempat diselenggarakannya balap kuda oleh Klub Pacuan Priangan.”

Setelah melalui gelanggang pacuan dengan tribun yang mengesankan, mereka tiba pada bangunan seputih salju, berbentuk ladam, bergenting merah, dan berjendela banyak. Saat Nyoman tiba ke Bandung, pacuan kuda di Tegallega telah berlangsung lama.

Dengan memanfaatkan berbagai bacaan, melalui tulisan ini saya ingin merekonstruksi penyelenggaraan balap kuda di Priangan pada masa lalu itu. Dalam praktiknya, saya membatasi pembahasannya pada masa antara tahun 1853 hingga tahun 1899.

Rujukan yang digunakan terutama berasal dari koran, buku, dan lain-lain, yang terbit sezaman. Tribun di lapangan pacuan kuda Tegallega, Bandung.

Bagaimana perkembangan budi daya kuda di Priangan tempo dulu?

Dalam tulisan A. W. Holle dan P. Noordyk dalam Tijdschrift voor Nijverheid en Landbouw in Nederlandsch-Indie (Deel XVI, Nieuwe Serie Deel XI, 1871) yang dimuat ulang di Tijdschrift van het Indisch Landbouw-Genootschap (Tweede Jaargang, 1872), “Bijdragen tot de verbetering van het paardenras op Java”. Satu lagi tulisan karya M dalam Het Nieuws van den Dag edisi 24 Juli 1880, ”Het Paardenras in Indie”.

Menurut A. W. Holle dan P. Noordyk yang menulis dari Parakan Salak, pada 6 September 1864 itu, sejak 25 tahun terakhir banyak ras kuda yang diperkenalkan ke Priangan, yaitu Persia, Arab, Inggris, Australia, Scheisch, Makassar, dan Sandelwood.

Orang yang ada di balik upaya tersebut adalah Graaf Bentheim, bupati Bandung dan Cianjur, serta sebagian oleh bupati Garut dan Sumedang.

Hal ini adalah upaya untuk meningkatkan ras kuda Priangan (Preanger-paarden) yang kecil, malas, dan kurang terpakai karena hanya digunakan sebagai umbal atau kuda beban.

Namun, sejak sepuluh hingga 15 tahun terakhir, minat untuk meningkatkan ras kuda tersebut di antara para bupati cenderung menurun.

Hal tersebut terlihat dari laporan yang diterbitkan oleh PWS. Oleh karena itu, A. W. Holle dan P. Noordyk menyarankan beberapa hal terkait hal tersebut, yakni melanjutkan Priangan sebagai tempat menguji pengembangbiakan kuda; pemerintah menyediakan dana untuk membeli kuda ras Arab untuk para bupati; dan membuat dewan yang mempertahankan agar kuda tetap dalam kondisi prima.

Hal berbeda sekaligus sama diungkapkan dalam artikel ”Het Paardenras in Indië”. Di situ disebutkan bahwa kuda Priangan itu besar, tetapi keras dan bandel. Kudanya merupakan campuran antara ras Jawa dengan Eropa, Arab atau Persia.

Namun, hasilnya hanya tubuh saja yang besar dan kekar. Pada 1837, pemerintah kolonial mulai memperhatikan hal tersebut, dengan jalan membuat pusat pemurnian ras kuda. Mula-mula di Bogor, tetapi karena dirasa tak cukup ruang, dipindahkan ke Priangan.

Preanger Wedloop Societeit, Klub Pacuan Kuda Pertama di Priangan Dengan tumbuhnya minat terhadap kuda, pada awal 1853, beberapa pegawai Eropa dan para bupati Priangan mengajukan permohonan untuk membentuk klub pacuan kuda kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Mr. A. J. Duymaer van Twist.

Menurut laporan Residen Priangan C.P.C. Steinmetz dan E.J. Marten di Cianjur, 4 Maret 1853 (Java-Bode, 19 Maret 1853), pertimbangan pengajuan tersebut adalah cita-cita untuk menyelenggarakan pacuan kuda yang akan menjadi sarana hiburan dan keuntungan publik.

Jaksa Bandung menunggang kuda. Dia termasuk peserta lomba pacuan kuda yang diselenggarakan PWS antara 1853-1899.

Atas persetujuan Duymaer van Twist, organisasi tersebut dinamakan Preanger Wedloop Societeit (PWS), dengan susunan pengurus: C.P.C. Steinmets (presiden), B. B. Crone, B. M. F. Philippeau, Bupati Cianjur R.A.A. Koesoema Ningrat, Bupati Bandung R.T. Soeria Kerta Adhi Ningrat (komisaris), H.A. M. Brumsteede (bendahara), dan E. J. Marten (sekretaris). Adapun Bandung dijadikan tempat pelaksanaan balapan kuda tersebut.

Untuk kali pertama, PWS menyelenggarakan pacuan kuda di Bandung pada hari Jumat dan Sabtu, 13-14 Mei 1853. Pada hari pertama diselenggarakan empat perlombaan, yakni De Maiden Plate (untuk kuda pribumi), De Presidents Beker (yang memperebutkan hadiah dari presiden PWS), De Tjikadjang Beker (hadiah dari Hope Loudon), dan De Maiden Pony Stakes.

Sementara pada hari kedua adalah De Preanger Beker, De Bandong Stakes, dan De Lembang Beker. Dalam perkembangannya hingga 1865, hadiah yang disediakan mencapai f. 400.

Namun, sejak 1870, kegiatan PWS melemah dan mulai bangkit lagi pada 1880 dengan penyelengaraan pameran produk peternakan dan pertanian.

Untuk maksud tersebut, pemerintah kolonial memberi subsidi sebesar f. 2000 hingga f. 5000 (Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië, Deel II N-Z, 1921). Sebagai contoh, menurut Nieuwe Rotterdamsche Courant, 14 April 1864, untuk 1863, PWS mendapatkan subsidi sebesar f. 500. Kemudian pada 1896, subsidinya sebesar f. 2000 (Preanger-Bode, 21 September 1896) kemudian pada 1899 menerima jumlah subsidi yang sama (Bataviaasch Nieuwsblad, 8 Mei 1899).

Bisa jadi pelemahan kegiatan inilah yang menjadi polemik antara A.W. Holle dari perkebunan Parakan Salak dengan seseorang berinisial v. G di koran Bataviaasch Handelsblad pada 1869. Mula-mula dalam surat terbuka bertitimangsa Parakan Salak, 2 Agustus 1869, A.W. Holle menulis serangan kepada v.G yang melakukan kritik kepada PWS.

Kemudian v.G menjawabnya dalam surat terbuka bertitimangsa Bandung, 9 Agustus 1869. Pada surat satu lagi yang bertitimangsa Parakan Salak, 17 Agustus 1869, Holle menjawab lagi kritikan tersebut.

Alhasil, perang pena tersebut dimuat dalam Bataviaasch Handelsblad edisi 7, 14, dan 25 Agustus 1869. Dari sisi peraturan, selama abad ke-19, PWS telah mengalami beberapa kali perubahan, yaitu terbitnya ordonansi pada 2 Agustus 1889 mengenai PWS sebagai badan hukum (vereeniging als rechtspersoon), dan ordonansi pada 14 Mei 1896 tentang amandemen Pasal II dan III statuta PWS (wijziging van de artikelen II en III).

Jadilah PWS sebagai organisasi olah raga tertua di Bandung, meskipun didirikan di Cianjur. Diselenggarakannya bergantian antara di Cianjur dan di Bandung.

Pada awal penyelenggaraannya yang dipertandingkan adalah kuda pribumi atau yang dibiakkan di Priangan. Kemudian diperkenalkan kuda Australia sehingga menyisihkan kuda pribumi.

Lebih dari 25 tahun yang lalu, tempat penyelenggarannya adalah lapangan Tegallega (Mooi Bandoeng, No. 7, Januari 1934). Antara Tahun 1853-1899

Menurut data yang dihimpun dari koran Java-Bode, Preanger-Bode, dan lain-lain antara tahun 1853 hingga 1899, paling tidak pernah dilakukan 32 kali pacuan kuda yang diselenggarakan PWS.

Penyebab di balik tidak setiap tahun ada perlombaan adalah dikarenakan adanya penurunan minat terhadap pacuan kuda, sebagaimana yang dicatat oleh Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (1921). Absennya data perlombaan pacuan kuda yang diselenggarakan oleh PWS berkisar di sekitar tahun 1859-1860, 1862-1865, 1868, dan 1872-1880.

Dengan catatan pada 1857 diselenggarakan sebanyak dua kali, yakni pada 1-2 Juli dan 29-30 September.

Mula-mula pacuan kuda tersebut berlangsung selama dua hari dan selanjutnya selama tiga hari pada akhir pekan, yaitu dari hari Jumat hingga Minggu.

Sementara bulan penyelenggaraannya mula-mula tidak beraturan, misalnya untuk 1854 berlangsung pada Oktober, untuk 1857 dan 1858 pada September, dan 1870-1871 pada bulan Mei. Namun sejak 1881 hingga 1899, pacuan kuda di Priangan biasanya berlangsung antara bulan Juli dan Agustus.

Dengan catatan, antara 1885-1889 berlangsung pada Juli dan kekecualian pada 1898 yang berlangsung September. Tempat penyelenggaraannya, sejak awal, berganti-ganti antara Bandung dan Cianjur.

Kedua tempat tersebut merupakan ibu kota Karesidenan Priangan, yang mula-mula berada di Cianjur dan kemudian pindah ke Bandung.

Pergantian antara Bandung-Cianjur ini paling tidak berlangsung hingga 1869. Sejak 1870, acara balap kuda tahunan tersebut dilaksanakan di Bandung, yaitu di lapangan Tegallega, yang notabene tanah miliki bupati Bandung.

Adapun para peserta yang mengikuti hajat tahunan ini adalah kalangan elite kolonial Belanda dan pribumi terpandang. Peserta dari kalangan orang Belanda berasal dari pejabat pemerintah dan juragan perkebunan.

Yang menarik dari terah keluarga Hunderen, banyak juragan perkebunan yang terlibat, terutama A.W. Holle (pengelola perkebunan Parakan Salak), E. J. Kerkhoven (perkebunan Sinagar), dan Motman. Sementara dari kalangan pribumi terdiri dari para pangreh praja dari camat, wedana, jaksa, patih, dan bupati.

Dengan catatan, para bupati yang mengikuti pacuan kuda adalah bupati-bupati di Priangan, yaitu bupati Cianjur, Bandung, Sumedang, Limbangan/Garut, dan Sukapura/Tasikmalaya. Selain itu, ada juga dari kalangan Tionghoa, yaitu Khouw Kim Tjiang pada 1888.

Dia adalah tuan tanah yang diangkat sebagai letnan Cina di Bogor pada 1886 (Luitenant der Chineezen te Buitenzorg , Khouw Kim Tjiang, landeigenaar).

Selama rentang waktu hampir setengah abad itu, nomor atau jenis yang dilombakan berkisar dari tujuh hingga belasan macam.

Pada 1861 misalnya, yang dilombakan adalah Beschermheer’s beker dengan hadiah dari Gubernur Jenderal Chs.F. Pahud; Maiden Pony Stakes; Afscheidsbeker; dan Maiden Plate. Ini untuk lomba hari pertama.

Sementara untuk balapan hari kedua adalah Bandoengschen Regentschebeker; Passirmondingbeker; dan Bandong Stakes.

Kian lama, nama perlombaannya kian banyak. Misalnya untuk 1881, yang dilombakan adalah Beschermheers-Beker; Maiden Pony Stakes; Vice Presidents-Beker; Regent Soekapoera Beker; Maiden Plate; Mars-Beker; Harddraverij; Eere Leden Beker; Controleurs-Beker; Fancy Beker; Mercurius Beker; Pony Stakes; Gentlemen Races; dan Bandoeng Stakes.

Namun bila dilihat secara saksama, hampir tiap tahun lomba Beschermheer’s beker, Maiden Pony Stakes, Maiden Plate, dan Fancy Beker tetap ada, karena menjadi kegiatan rutin.

Yang selalu berubah adalah bila ada pemberi sponsor hadiah bagi lomba, misalnya dari pejabat Belanda, pengusaha perkebunan, bupati, jaksa, dan lain-lain.

Misalnya, pada 1866, untuk lomba Thee-Beker, hadiahnya dari pengusaha F.J. Kerkhoven; Fiscal-Beker dari Jaksa Bandung; dan Djatti-Nangor Beker dari pengusaha Mr.W.A. Baron Baud. Misalnya lagi Tjirohanie Beker (1867) dari pengusaha A.W. Holle; Regent Soekapoera Beker (1881) dari R.T. Wira Adiningrat; dan Erawan Beker pada 1883 disedikan oleh J.C. Casten, Asisten Residen Cicalengka.

Kuda Pacuan Dinamai Seturut Jenis Kelamin dan Penanda Khasnya

Jumlah kuda yang diikutkan lomba mencapai puluhan setiap tahunnya. Antara 1854 hingga 1858 misalnya, ada 54 ekor pada 1854, 42 ekor (1855), 43 ekor (1856), 36 dan 26 ekor (1857), dan pada 1858 sejumlah 33 ekor.

Tampaknya, kuda-kuda tersebut diberi nama seturut jenis kelamin dan penanda khasnya. Menariknya, baik orang Belanda maupun pribumi banyak memilih menggunakan nama Sunda.

Misalnya, kuda-kuda A.W. Holle dinamai Talaga, Iskander, Gengang, Noble, Djamparing, Lodaija, dan Tortolina. Pengusaha E.J. Kerkhoven menamai kudanya dengan Igel, Rosa, Orlando, Hermiet, Gardenia, Brigantine, Huzaar, Formosa, Favorite, Ulan, dan Obelisk.

Nama-nama tokoh yang dipilih untuk kuda bangsawan Sunda, antara lain, Soewanda, Sopala (milik Bupati Cianjur), Anoeman, Angraeni (Bupati Garut), Kombaijana, Waijang Dawoek, Arimbie (Bupati Sumedang), Regawa (F.C. Philippeau), Samba (Jaksa Bandung), Indradjied (G. Mundt), Ardjoena (G.R. Brunting), Goenawan, Pergiwati (Bupati Sukapura), Andjanie (Raden Kartawinata), Pirtiwie (Wadana Banjaran), Erawan (Bupati Limbangan), Sinta (Jaksa Sumedang), Sobali (Patih Tasikmalaya). Sementara kuda yang bernama panakawan adalah Semar (milik Jaksa Bandung), Tjepot (Bupati Sumedang), dan Dewala (Patih Tasikmalaya). Istilah Sunda lainnya yang menarik dan digunakan untuk menamai kuda, antara lain, Djonggring (Bupati Sukapura), Soekamanah (Jaksa Bandung), Denok (Bupati Bandung), Kidang (J. Lunenberg), Pangledjar (Patih Tasikmalaya), Lendjang (R. van Romunde), Ratna (B.B.E. Crone), Kembang (Wadana Kota Bandung), Leuleus dan Koeoel (Bupati Sumedang), Bangkong (Bupati Limbangan), Tarsih (Wadana Cilokotot), Pandjak dan Mawoer (Bupati Garut), Tjolet (Wadana Tanjungsari), Keroed (W.H. de Groot), Gendjer (Camat Lembang), dan Timoe (M.J. Meertens).

Jumlah hadiahnya pun bermacam-macam, dari yang semula hanya ratusan gulden untuk seluruh penyelenggaraan lomba, kemudian meningkat sehingga tiap jenis lombanya dihadiahi ratusan gulden.

Untuk tahun 1895, contohnya, masing-masing lomba dan hadiahnya adalah sebagai berikut: Residents-beker (f. 700), Maiden pony-stakes (f.650), Bandoeng stakes (f.500), Tegallega-beker (f.550), Sinagar-beker (f.500), Maiden plate (f.1500), Presidents beker (f.550), Preanger-beker (f.450), Pony stakes (f.400), Galoenggoeng-beker (f.350), Theemakelaars-beker (f.450), Consolatiebeker (f.450), Totalisatorprijs (f.400), Maidenplate voor allerassen (f.700), Fancyprijs (f.500), dan sebuah Match (f.250).

Seluruhnya berjumlah f. 8900. Piala dari perak untuk juara pertama lomba pacuan kuda yang diselenggarakan PWS.

Piala ini dibuat oleh Koninlijke Utrechtse Fabriek. (Sumber: De Reveu der Sporten, No. 6 (1913))*** Pacuan Kuda di Bogor, Sukabumi, Tasikmalaya, dan Garut Pacuan kuda yang diselenggarakan PWS mendorong lahirnya klub-klub lainnya di Jawa Barat, bahkan di Priangan sendiri PWS berdiri klub-klub lain.

Di Bogor berdiri Buitenzorgsche Wedloop Societeit pada 1873. Wahana pacuan kudanya di dekat Air Mancur (Stadion Pajajaran). Klub ini bahkan mengisi kevakuman yang dialami oleh PWS pada 1870-an.

Untuk penggemar balap kuda di wilayah Sukabumi dan sekitarnya ada West Preanger Wedloop Societeit (WPWS) yang didirikan pada 1892. Lapangan pacunya di Soenia Wenang (Parungkuda) dan Cibolang, Cisaat.

Sementara di Priangan sebelah timur berdiri Oost Preanger en Galoeh Wedloop Societeit dan Soekapoerasche Wedloop Societeit, kemudian Oost Preanger Wedloop Societeit. Semuanya mulai diselenggarakan pada awal abad ke-20.

Di Tasikmalaya biasanya balap kuda diselenggarakan di Lapangan Dadaha. Sementara di Garut, pacuan kuda diadakan oleh Wedloopsocieteit Haoer Panggoeng di Lapangan Jayaraga.

Kini lapangan Tegallega yang 135 tahun lalu dilihat Nyoman Darma dan didengarnya menjadi penanda kebanggaan Bandung telah lama lenyap pesonanya. Tidak ada lagi gelanggang dengan tribun mengesankan, sekaligus senyap sudah suara-suara menggemuruh para penggila kuda dari kalangan penguasa dan pengusaha kolonial serta elite-elite pribumi yang mau tidak mau harus mengikuti tren yang diguratkan sang penguasa

Berkuda masa kini

Sementara itu saat ini olahraga pacuan kuda justru sangat digandrungi anak muda. Menurut Balqis Aurora Kusuma, salah satu atlet berkuda asal Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berkuda memiliki ciri khas yang unik bagi para jokinya.

Ia mengatakan dengan berkuda kita bisa menjaga ciri khas Indonesia dengan kuda dan menjalankan salah satu anjuran RAsulullah SAW. “Asyik ya kalau berkuda itu, ada tantangannya sendiri. Semoga pemerintah juga bisa ikut melestarikan, olahraga ini,” kata sulung dua bersaudara ini. (*)

Penulis : Ade Indra

Editor : AMK