KABARNUSANTARA. ID – Salah satu makanan yang sering sulit dikonsumsi oleh anak adalah sayur. Untuk membuat anak menyukai dan meminatinya, penting bagi orangtua untuk menyukai makanan kesukaan anak terlebih dahulu.

“Anak saya yang paling besar usianya 7 tahun. Karena dia sudah lebih besar jadi bisa memilih makanan yang dia suka. Awalnya, saya juga kesulitan, gimana caranya dia suka sayur. Tiap kali nawarin makan sayur, saya bilang, ‘Kamu sukanya apa? Yaudah deh makan yang kamu suka,” ujar Soraya Larasati, seorang ibu dalam dialog Bicara Gizi, beberapa waktu lalu.

“Akhirnya, saya menemukan kalau anak sukanya sayur yang ada kuahnya. Pernah bikin sayur asem yang dimasukin kacang panjang, labu siam. Nah, dia suka. Kalau dimasakin tumis buncis enggak gitu dilirik. Dia ternyata sukanya sayur yang berkuah dan ada rasanya gitu,” sambungnya.

Lebih lanjut, Soraya mengatakan, penting bagi seorang ibu peka apa yang menjadi makanan kesukaan anak.

“Jadi, perhatikan model kayak gimana masaknya. Karena anak suka sayur berkuah, saya bikin sayur pakai kuah tomyam. Isinya bakso, tapi tetap ada sayurnya. Dimasukin brokoli sedikit-sedikit juga sih. Akhirnya, dia mau juga makan dengan brokolinya,” terang Soraya.

“Aku pikir dia sukanya lebih kepada rasa kuahnya. Tapi yang penting dia bisa makan sayur. Jangan maksain sayur yang kita sukanya apa. Karena kan mungkin selera anak juga berbeda ya. Sampai sekarang, anak saya tetap tercukupi kebutuhan makan sayur,” lanjutnya.

Perlihatkan Kita Makan Sayur pada Anak

Psikolog Anak dari Tiga Generasi Putu Andani memberikan tips agar anak minat makan sayur. Ibu bisa makan sayur bersama anak. Anak akan melihat apa yang ibu makan dan bisa tergerak untuk mencicipi.

“Ketika kita makan bersama ya kalau bisa makannya bareng-bareng. Tentunya, makan yang ada sayurannya. Anak-anak bisa jadi suka. Cara lain, kita aja makan dulu, biarin anak melihat apa yang kita makan,” terangnya.

“Enggak usah langsung bilang, ‘Kamu mau makan ini? Ayo makan dulu sedikit saja.’ Nah, tahan dulu ajakannya. Ini menunjukkan kalau makan itu dengan suasana happy (gembira) dan rileks,” sambungnya.

Lama-lama setelah apa yang kita makan dilihat anak dan menjadi kebiasaan setiap hari, anak jadi tergerak sendiri untuk ikut makan. Tanpa sadar, dia mungkin makan sayur yang terhidang di meja sendiri.

“Kalau sudah dilakukan secara rutin pasti biasanya anak tanpa sadar meraih makanannya. Pas lihat anak akhirnya makan sayur, kita enggak usah komen apa-apa. Sekarang ini bagus dia bisa makan sayur,” lanjut Putu.

Belajar dari Sulit BAB

Lain cerita dengan dokter spesialis gizi klinis Juwalita Surapsari, ia memberikan pemahaman kepada anak soal sayur dari pengalaman penyakit yang dialami. Apalagi ketika anak mengalami sulit buang air besar (BAB) atau istilahnya sembelit.

“Kurangnya konsumsi sayur berserat menjadi salah satu faktor kontributor anak susah BAB. Pengalaman susah BAB adalah pengalaman paling enak buat anak belajar,” jelas Juwalita,

“Anak saya sekitar usia 2 tahun pernah sembelit. Mulai deh diberikan pemahaman yang kecil-kecil dulu. Saya kasih tahu bahwa salah satu penyebabnya kamu enggak makan sayur. Dari situ terbantu, anak lama-lama jadi mau makan sayur,” tandasnya.

Sumber lain : merdeka.com