Susah Tidur, Warga Haurpanggung Garut Trauma Banjir Bandang

0
117

GARUT, KABARNUSANTARA.ID – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Garut pada 20 september 2016 lalu meninggalkan luka mendalam bagi sebagian warga Garut.

Salah satunya Udin warga Kampung Sudika indah, Cimacan, Desa Haurpanggung, Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat. Saking traumanya, sampai-sampai ia tak bisa tidur nyenyak saat hujan deras datang.

“Trauma sudah pasti ada karena kemarin kan banjir parah. Jadi tiap malam kalau hujan pasti takut, takut tiba tiba aja banjir bandang,” kata Udin, Rabu (26/02/2020) sore.

Bukan hanya terbangun, Udin pun bahkan sampai mengemas barang  karena saking takutnya terhadap potensi banjir yang masih mengintai.

“Sudah kaya otomatis cepet-cepet kemasin barang kalo udah tahu hujan besar, persiapan saja,” ujarnya.

Udin juga mengaku tidak lagi membaca berita di TV atau media online karena hal itu hanya akan menambah ketakutannya saja soal ancaman bencana alam. Dia memilih untuk mencari kesibukan lain dengan fokus bekerja.

“Berita kadang suka makin nambah-nambahin takut. Jadi, mending enggak usah baca,” pungkasnya.

Diketahui banjir bandang di Garut yang terjadi pada Rabu 21 September 2016 dini hari yang menerjang tujuh kecamatan merupakan banjir bandang terbesar dan terparah dalam catatan Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut.

Dilansir dari Elshinta.com, tercatat sekitar 2.511 rumah rusak berat dan ringan, serta 100 rumah hilang akibat tersapu banjir bandang Garut.

Sebanyak 6.361 orang pun diungsikan ke sejumlah lokasi pengungsian, seperti di Markas Komando Resor Militer dan Komando Distrik Militer setempat, Apotek Wira Prima, dan Rumah Sakit Guntur.

Banjir bandang tersebut merupakan yang terparah dalam 50 tahun terakhir. Hujan deras yang terjadi sejak pukul 19.00 WIB menyebabkan arus Sungai Cimanuk yang berada di sekitar Kota Garut meluap.

Ratusan rumah, perkantoran, dan instalasi vital lainnya milik pemerintah yang berada di dekat sungai akhirnya tak luput dari terjangan banjir.

Bupati Garut Rudy Gunawan pada saat itu mengatakan, banjir bandang itu petaka alam terparah sepanjang sejarah kabupaten yang dipimpinnya. Bukan saja dari jumlah korban tewas dan kerusakan materi yang ditimbulkan, skala banjir juga terbilang besar.

Menurut dia, beberapa kali banjir menerjang Garut termasuk pada tahun 2015 yang setinggi lima meter. Namun, bencana banjir kali ini mencapai delapan sampai sepuluh meter. (*)

Reporter : MD Sumarna

Editor : Slamet Timur