Virus Optimisme, Cara Move On Dari Corona

0
107

Oleh : Ari Maulana Karang
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Garut

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), optimisme diartikan sebagai sebuah sikap yang selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal. Optimisme, menjadi kata kunci bagi banyak cerita sukses manusia menghadapi hidup dan kehidupan.

Optimisme, tidak bisa dipisahkan dari harapan. Keduanya, menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Optimisme ada karena ada harapan. Harapan, menumbuhkan optimisme.

Setidaknya begitulah hubungan antara keduanya.

Setiap agama yang ada di muka bumi, selalu mengajarkan rasa optimisme dan harapan.

Hal ini setidaknya tergambar dalam prosesi doa yang ada dari tiap-tiap agama. Doa adalah harapan, dari harapan tumbuhlah optimisme.

Doa, bisa menjadi selemah-lemahnya usaha manusia dalam mengarungi hidup dan kehidupan di titik paling nadir. Namun, kekuatan doa juga tidak bisa diremehkan begitu saja.

Karena, doa menumbuhkan harapan hingga tumbuh optimisme dalam diri yang pada akhirnya teraplikasikan dalam usaha nyata.

Dalam nestapa, manusia mengumandangkan doa, dalam duka doa pun teruntai. Doa-doa menjadi persemaian harapan bagi umat manusia hingga tumbuh menjadi optimisme.

Optimisme, menjadi sebuah energi besar menghadapi duka dan nestapa.

Karenanya, ditengah kegalauan massal menghadapi Pandemi Covid-19 di negeri ini, selain berbagai upaya yang tengah ditempuh pemerintah dalam menghadang Pandemi Covid-19.

Sebuah energi besar perlu dibangun negeri ini. Karena, energi ini bisa menjadi satu kekuatan besar melawan Pandemi Covid-19.

Energi tersebut adalah rasa optimisme. Rasa optimisme, harus terbangun di semua elemen masyarakat dan merasuki semua anak bangsa.

Hingga, tumbuh keyakinan bersama bangsa ini akan kuat dan bisa berdiri tegak menghadapi Pandemi Covid-19.

Layaknya Covid-19 yang begitu mudah menyebar, optimisme pun harus menjadi sebuah virus yang menyebar dan merasuki jiwa-jiwa anak bangsa ini.

Karena, tidak sedikit mereka yang terpapar Covid-19 bisa bertahan dan lepas dari Covid-19 karena memiliki optimisme yang tinggi.

Jika mereka saja yang sudah terpapar Covid-19 bisa bertahan dan lepas dari Covid-19 dengan hanya bermodal optimisme karena Covid-19 belum ada obatnya.

Tentu saja mereka yang berstatus ODP, PDP, OTG dan kita semua yang lepas dari status tersebut, lebih mudah keluar dari tekanan Pandemi Covid-19 dan mampu merubah tantangan Covid-19 menjadi sebuah peluang.

Lantas, bagaimana caranya agar virus optimisme bisa menyebar dan merasuki semua anak bangsa.

Banyak cara tentunya, karena tiap manusia punya cara dan pendekatan tersendiri dalam membangun optimisme. Memalingkan diri dari segala kabar soal Covid-19 dan tidak tenggelam didalamnya, bisa menjadi salahsatu cara paling mudah mungkin.

Cara lain, bisa dengan sesegera mungkin mencari berbagai terobosan hidup ditengah Pandemi Corona.

Kebijakan social distancing hingga Pembatasan Social Berskala Besar (PPSB), tidak harus dimaknai dengan berdiam diri.

Banyak cara mensiasati Social Distancing dan PPSB untuk bisa bertahan hidup dan lepas dari tekanan Pandemi Covid-19.

Yakin saja, akan ada jalan ditengah segala kebijakan pembatasan yang dilakukan pemerintah.

Tak usah menyalahkan siapapun, karena mencari kambing hitam malah akan membuat rasa optimisme sulit tumbuh.

Dan yakinlah, terobosan yang diambil dalam kondisi yang serba terbatas, akan bisa membuat kita semua makin kuat.

Karena, sejatinya sampai saat ini belum pernah ada ancaman yang membuat semua lini kehidupan mati seperti Pandemi Covid-19.

Krisis ekonomi global, perang dagang timur barat hingga tsunami politik di era reformasi, dampaknya tidak sampai meluas seperti Pandemi Covid-19.

Karenanya, jika terobosan yang kita buat untuk menghadapi Pandemi Covid-19 bisa membuat kita semua bisa berdiri tegak. Bukan tidak mungkin setelah Pandemi Covid-19 mereda dan hilang, terobosan tersebut bisa menjadi sebuah langkah besar bangsa ini untuk lebih maju.

Semua tentunya berpulang pada kita semua, mampukah membaca tantangan dari Pandemi Covid-19 saat ini menjadi sebuah peluang.

Kemampuan tersebut, hanya bisa tumbuh jika rasa optimisme masih tersisa saat ini. Tanpa rasa optimisme, Covid-19 secara perlahan dan pasti, bisa jadi mesin pembunuh meski lepas dari status positif Covid-19.

Saat ini, pilihannya hanya dua jadi bagian dari korban terdampak Pandemi Covid 19 baik secara medis atau korban non-medis, atau bangkit dan berdiri tegak ditengah Pandemi Covid-19 hingga Pandemi usai dan menjadi bagian dari pemenang dari nestapa yang dirasakan oleh seluruh anak bangsa. Selalu ada asa dalam nestapa. (*)