Waspadai Wabah Cacar Monyet, Bandara Husein Kini Dipasangi Pemindai

0
104

BANDUNG|KABARNUSANTARA.ID – Selain disibukan dengan isu people power, Indonesia juga kini disibukkan dengan wabah cacar monyet atau monkeypox. Beberapa bandara belakangan ini langsung dipasangi alat pemindai. Di antaranya Bandara Husen Sastrangara, Bandung.

Pejabat Bandara Husein Sastranegara, Andika Nuryaman menyebutkan, pemasangan alat pemindai tersebut sesuai dengan intruksi dari pemerintah terkait adanya indikasi wabah cacar monyet di Singapura.

Baca juga:

Setelah Lima Hari Lalu, Hari Ini Dua Kali Pangandaran Kembali Diguncang Gempa

“Alat pemindai tersebut hanya digunakan untuk kedatangan dari luar negeri, dan pemantauan dikhususkan untuk kedatangan dari Singapura di mana di negara itu ditemukan wabah cacar monyet,” jelasnya, Jumat (18/5/2019).

Ditambahkannya, ini salah satu antispasi yang diinstruksikan pemerintah kepada bandara agar masyarakat Indonesia terhindar dari wabah tersebut.

Di Singapura memang ditemukan adanya wabah cacar monyet yang menyerang seorang warga Nigeria berusia 38 tahun yang tengah berada di negara tersebut. Namun kini warga Nigeria itu sudah dalam kondisi stabil meski masih menjalani perawatan di ruang isolasi di Pusat Penyakit Menular Nasional (NCID).

Apa itu cacar monyet?

Penyakit ini pertama kali ditemukan pada hewan monyet di tahun 1958. Penyebabnya adalah virus yang ditularkan dari hewan ke manusia.

Baca juga:

Seluruh Desa di Jabar akan Peroleh Mobil Pelayanan

Mereka yang terinfeksi dari penyakit monkeypox akan mengalami demam, sakit kepala, sakit otot, nyeri, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga terjadi ruam pada kulit. Dan dalam beberapa kasus, cacar monyet bisa mengakibatkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak, serta infeksi mata.

Akan tetapi jika ditangani dengan baik, cacar ini relatif mudah disembuhkan. Masa inkubasinya 6-21 hari setelah itu sembuh sendiri.

Cara menghindarinya, selain menjaga kebersihan badan dan lingkungan, untuk sementara jauhilah hewan seperti monyet dan tikus.

Reporter : RM
Editor: Mustika